Tampilkan postingan dengan label FTS Padat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FTS Padat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

Pyrogen

       Pyrogen didefinisikan sebagai hasil metabolik dari mikroorganisme hidup atau mati yang menyebabkan respon piretik spesifik pada saat penyuntikan (injeksi). Secara kimia pyrogen berupa lipopolysaccarida, larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik. Pyrogen ini dapat disaring dengan ukuran tertentu dan merupakan zat padat makro molekul dengan BM antara 15.000-4.000.000. Karena larut dalam air maka baiknya sterilasisi dengan uap air dengan tekanan maupun filtrasi melalui filter penyeteril tidak dapat menghilangkan pyrogen, meskipun proses tersebut dapat menghilangkan mikroorganisme.
Pyrogen yang dihasilkan oleh mikroorganisme Gram Negatif adalah yang paling poten. Dalam tubuh manusia reaksi pyrogen ditandai dengan timbulnya demam dan kedinginan. Setelah diberikan injeksi dengan waktu laten 45 sampai 90 menit, kemudian kenaikan yang cepat dari tempertur badan yang diikuti dengan kedinginan, sakit kepala dan malaise (perasaan tidak enak badan).
Pyrogen yang terdapat dalam sediaan parenteral dapat berasal dari salah satu dari ke-3 (tiga) sumber sebagai berikut :
1.  Air yang dipakai sebagai solven (pelarut)
2.  Wadah atau alat yang dipakai untuk pembuatan, pengemasan, penyimpanan atau penggunaan.
3.  Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk membuat larutan/sediaan parenteral.
Beberapa cara dapat dipergunakan untuk menghilangkan pyrogen. Sebagai senyawa organik, pyrogen dapat dihancurkan dengan panas tinggi (oksidasi) atau dibakar. Temperatur yang cukup memuaskan adalah 250 C selama 30-45 menit atau 170-180 C selama 3-4 jam.
Metode di atas cukup efektif untuk alat-alat/wadah dari gelas dan mental, tetapi tidak dapat digunakan untuk larutan. Dalam larutan pyrogen dapat dihilangkan dengan dua cara :
1.  In Aktivasi
     a. Kimiawi (oksidasi, alkilasi, atau hidrolisa dari endotoksin), cara ini dapat digunakan untuk
         bahan dan air.
     b. Panas kering atau dibakar pada suhu 170-350 C (pada suhu 250 C selama 30 menit).
         Jika temperatur diturunkan maka waktu yang dibutuhkan lebih lama. Panas kering biasanya
         digunakan untuk alat gelas, minyak tahan panas dan serbuk
2. Removal
    a. Pembilasan/pengenceran dengan aqua p.i dapat diterapkan untuk wadah dan tutup.
    b. Ultrafiltrasi, dengan kombinasi filter 0,1 m dan 0,2 mikron (sterilizer filter)
    c. Depth filter, dengan menggunakan lapisan kaolin dan aluminium oksid atau kiesleguhr.
    d. Absorpsi elektrostatik, prinsip dari cara ini adalah perbedaan muatan antara sampel dengan
        alat yang digunakan
    e. Adsorpsi, menggunakan charcoal dan barium sulfat suspensi.
    f. Ion Exchange resin
   g. Gamma irradiation 
       Dari segi praktek, pendekatan yang paling baik untuk menghindari terjadinya reaksi pyrogen adalah membuat sediaan parenteral dengan solven, pengemas, alat dan bahan yang bebas pyrogen.

Uji Pyrogen
Adanya pyrogen dalam sediaan parenteral dapat diketahui dengan melakukan uji pyrogen. Uji pyrogen tersebut dapat dilakukan dengan :
1.  Menggunakan Kelinci
     Larutan parenteral disuntikkan pada vena telingga, kemudian diamati kenaikan suhu kelinci.
2.  Menggunakan Limulus Lyate Test (LAL-test) ada tidaknya penggumpalan dalam larutan yang
     diuji LAL-test memberikan keuntungan jika dibandingkan dengan uji dengan kelinci,
     karena : lebih mudah, lebih sensitif, dan reliable.

Kata Kunci : Pyrogen, Uji Pyrogen, Sumber Pyrogen, Cara Menghilangkan Pyrogen

Minggu, 23 September 2012

STERILISASI

Definisi Sterilisasi
       Sterilisasi adalah suatu proses untuk menghilangkan, mematikan atau menghancurkan semua bentuk mikrooraganisme  hidup baik yang patogen atau tidak, baik dalam bentuk vegetatif maupun tidak vegetatif (spora) dari suatu obyek atau bahan. Pada umumnya suatu proses yang dapat menghancurkan zat hidup juga mampu meyebabkan beberapa kerusakan pada obyek saat disterilkan. Dengan alasan inilah maka kadang-kadang diperlukan energi minimum, misalnya dalam bentuk panas, untuk memperkecil kerusakan bahan, tetapi dalam jumlah yang cukup menjamin bahwa semua bentuk mikroorganisme telah dihancurkan dalam obyek atau bahan tersebut.

Metode-Metode Sterilisasi
       Pada umumnya dikenal 5 macam cara sterilisasi untuk produk-produk sediaan faramasi, yaitu :
1. Sterilisasi Uap
Gambar 1. Simple Autoclave
        Penanganan dilakukan dengan uap jenuh air bertekanan tinggi dalam sterilisator uap yang disebut autoklaf pada daerah suhu 110-140C. Di dalam farmakope ditetapkan untuk media atau peraksi adalah selama 15 menit pada suhu 121 C keculi dinyatakan lain.
2. Sterilisasi Panas Kering
        Proses tersebut dilakukan dengan udara yang dipanaskan dalam sterilisator udara panas pada daerah suhu 160-200 C. Waktu sterilisasi (waktu kerja) yang bergantung dari suhu dapat diperoleh dari sebuah diagram atau untuk suhu tertentu, misalnya 180 C dalam waktu 15-30 menit.
3. Sterilisasi Gas
       Pilihan sterilisasi gas sering dilakukan jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi pada proses sterilisasi uap atau panas kering. Bahan aktif yang sering digunakan adalah etilen oksida. Keburukan dari bahan aktif ini antara lain sifatnya yang sangat mudah terbakar, walaupun sudah dicampur dengan gas inert yang sesuai, bersifat mutagenik, dan kemungkinan adanya residu toksik di dalam bahan yang disterilkan, terutama mengandung ion klorida. Proses sterilisasi pada umumnya berlangsung di dalam bejana yang didesain sama seperti pada autoclave, tetapi dengan tambahan bagian khusus yang hanya terdapat pada alat sterilisasi yang menggunakan gas.
4. Sterilisasi dengan radiasi pengionan
       Untuk alat kesehatan yang tidak tahan terhadap sterilisasi panas dan kekhawatiran tentang kemanan etilen oksid mengakibatkan peningkatan penggunaan sterilisasi radiasi. Tetapi cara ini juga dapat digunakan pada bahan obat dan bentuk sediaan akhir. Keunggulan sterilisasi radiasi meliputi : reaktifitas kimia rendah, residu rendah yang dapat diukur, dan kenyataan yang membuktikan bahwa variable yang dikendalikan lebih sedikit. Teknik sterilisasi dengan radiasi hanya menimbulkan kenaikan suhu, tetapi tidak mempengaruhi kualitas dan jenis plastik atau kaca tertentu. Ada dua jenis radiasi ion yang digunakan yakni disintegrasi radioaktif dari radioisotop (radiasi Gamma) dan radiasi berkas elektron.
5. Sterilisasi dengan Penyaringan
       Sterilisasi dengan penyaringan digunakan untuk larutan yang menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, hingga mikroba yang dikandung dapat dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring pada umumnya terdiri dari suatu matriks berpori tertutup kedap dirangkai pada wadah yang tidak permeable.
       Efektifitas dari penyaring media atau substrat tergantung dari ukuran pori bahan dan dapat tergantung pada daya absorbsi bakteri pada atau di dalam matriks penyaring atau tergantung pada mekanisme pengayakan. Penyaring untuk tujuan sterilisasi umumnya dilaksanakan menggunakan rakitan yang memiliki membran dengan porositas minimal 0,2 mikron atau kurang, berdasarkan pada pembanding yang telah divalidari untuk kurang dari 10 pangkat 7 suspensi pseudomonas dimana tiap cm persegi dari luas permukaan penyaring.
6. Metode Aseptik
       Bahan-bahan obat yang tidak tahan panas (termolabil) tidak mngkin dilakukan sterilisasi dengan metode pemanasan, bahan-bahan metode ini memerlukan pengolahan pada kondisi yang tidak memerlukan pemanasan an pada daerah yang miskin kuman.
       Pembuatan sediaan obat secara metode aseptik diartikan, bahwa bahan obat dan bahan pembantu yang diperlukan sedapat mungkin harus disterilkan terlebih dahulu dan diperacikannya dilakukan dengan alat-alat yang telah disterilkan. Keseluruhan proses tersebut harus dialkukan pada ruangan yang miskin kuman atau nyaris bebas kuman. Kondisis tersebut pada kelas ruang A

Emulsi

Definisi Emulsi
       Emulsi adalah suatu sistem dispersi yang terdiri dari dua cairan yang tidak tercampurkan, yang satu tersidpersi di dalam yang lain dalam bentuk tetes-tetes kecil yang mempunyai diameter pada umumnya kurang dari 0,2-50mikron. Umumnya emulsi terdiri dari fase minyak dan fase air, dimana suatu campuran minyak dan air bila dikocok akan diperoleh campuran yang homogen. Sistem yang demikian mempunyai stabilitas minimal dan dalam waktu singkat akan memisah kembali. Stabilitas sistem ini dapat diperbesar, dengan bantuan suatu bahan penolong yang disebut emulgator.
       Dalam sistem dispersi tersebut cairan  yang terdispersi disebut fase dispers atau fase intern, sedangkan cairan dimana fase dispers disebut medium dispers atau fase ekstern/fase kontinyu. Kedua fase tersebut yang berair dapat  terdiri dari air atau campuran sejumlah substansi hidrofil, seperti : alkohol, glikol, gula, garam mineral, garam organik dan lain-lain. Fase yang lain adalah fase organik yang umumnya berminyak dapat terdiri dari substansi lipofil seperti asam lemak, alkohol, lilin, dll.

Tipe Emulsi 
       Dalam farmasi zat cair yang pada umumnya digunakan dalam sediaan emulsi adalah minyak dalam air, maka tipe emulsi dapat dibagi menjadi :
1. Emulsi tipe minyak/air (m/a) atau oleum/water (o/w)
    Pada tipe ini emulsi dimana minyak terdispersi dalam bentuk tetes-tetes kecil di dalam air.
2. Emulsi tipe air/minyak (a/m) atau water/oleum (w/o)
    Pada tipe ini emulsi air terdispersi dalam minyak

Penggunaan Emulsi
       Sediaan farmasi maupun kosmetika bentuk emulsi banyak sekali dijumpai baik untuk pemakaian topikal maupun sistemik, misalnya :
1. Per oral : Kebanyak adalah emulsi tipe o/w, bentuk ini mempunyai banyak keuntungan selain mudah diabsorbsi, homogenitas dosis mudah didapat.
2. Topikal : Dalam sediaan farmasi topikal maupun kosmetika, tipe emulsi baik o/w maupun w/o banyak sekali digunakan tergantung maksud penggunaannya.

Pembuatan Emulsi 
Cara Pencampuran 
1. Bila Menggunakan Surfaktan
    a. Surfaktan yang larut dalam minyak, larutkan dalam minyak. Sedangkan surfaktan yang larut dalam air, larutkan dalam air. Kemudian fase minyak ditambahkan ke dalam fase air. Cara ini digunakan bila diinginkan terbentuknya sabun basah hasil reaksi, sebagai emulgator.
    b. Fase Minyak ditambahkan surfaktan (misalnya tween dan span). Dipanaskan kurang lebih 60-70 derajat kemudian fase air ditambahkan porsi per porsi sambil diaduk hingga terbentuk emulsi, kemudian didinginkan sampai temperatur kamar sambil dilakukan pengadukan.
2. Bila Menggunakan Hidrokoloid atau Padatan yang Terdispersi.
    a. Metode Anglosaxon/Metoda Inggris/gom Basah
        Dibuat mucilago basah antara emulgator dengan sebagian air, kemudian minyak dan
        air ditambahkan sedikit demi sedikit secara bergantian sambil diaduk.
    b. Metode Continental (4-2-1)/ Metode gom Kering
        Minyak 4 bagian ditambah gom 1 bagian dihomogenkan dalam mortir kering,
        kemudian ditambahkan 2 bagian air, diaduk hingga korpus emulsi, kemudian ditambahkan
       sisa airnya sedikit demi sedikit sampai habis sambil diaduk.
    c. Metode Botol/Botol Forbes.
        Metode ini digunakan untuk minyak-minyak menguap dan minyak-minyak kurang kental. 
        Metode ini merupakan suatu variasi dari metode gom kering

Alat Untuk Membuat Emulsi
       Dalam pelaksanaannya efektivitas memperkecil ukuran partikel atau efektifitas penghomogenannya bisa berlainan tergantung dari jenis alat yang digunakan.
1. Pengaduk (Mixer)
       Jenis pengaduk ini bermacam ragamnya tergantung dari banyak volume  cairan, kekentalan dsb. Alat ini mempunyai sifat menghomogenkan dan sekaligus memperkecil ukuran partikel walaupun efek menghomogenkan cairan lebih dominan. Selain spesifikasi untuk tiap alatnya harus dijaga sekali agar tidak terlalu banyak udara yang ikut terdispersi ke dalam cairan menjadi buih. Karena semua yang terdispersi akan mengkonsumsi sebagaian surfaktan sehingga menjadi gelembung atau busa. Adanya busa ini tertama akan mengganggu pembacaan volume bila dilakukan pengisian dalam wadah.
2. Homogenizer
       Alat ini mempunyai karakteristik memperkecil ukuran partikel yang sangat efektif namun tidak menghomogenkan campuran. Pengecilan partikel terjadi karena cara kerja alat ini yaitu dengan menekan cairan, dipaksa melalui celah yang sempit kemudian dibenturkan ke suatu dinding atau ditumbukkan pada peniti-peniti metal yang ada dalam celah tersebut. Cara sangat sensititf sehingga bisa didapat diameter pertikel rata-rata kurang dari 1 mikron.

Kontrol Emulsi
       Kontrol emulsi dimaksudkan untuk mengetahui sifat fisika dari emulsi dan dipergunakan untuk mengevaluasi kestabilan emulsi. Ada beberapa cara kontrol emulsi :
1. Determinasi tipe emulsi
a. Metode pengenceran : beberapa tetes emulsi ditambahkan dalam tabung yang berisi air,
    bila campuran homogen atau emulsi terencerkan oleh air maka emulsi bertipe o/w dan
    sebaliknya.
b. Metode Pewarnaan : emulsi tipe o/w akan terwarnai oleh zat warna yang larut dalam air
    dan sebaliknya emulsi tipe w/o dapat diwarnai oleh zat warna yang larut dalam niinyak.
c. Konduktibilitas elektrik : air pada umumnya merupakan konduktor yang lebih baik
    dibandingkan minyak, bila emulsi dapat menghantarkan listrik maka emulsi tersebut bertipe o/w .
d. Pencucian
e. Percobaan cincin.
2. Distribusi Granulometrik
       Dengan mengetahui distribusi granulometrik dari partikel fase dispers dan diameter rata-ratanya, maka ini bisa untuk mengevaluasi kestabilan emulsi vs waktu. Distribusi granulometrik juga menunjukkan tingkat dispersitas yang dapat diketahui melalui pengamatan secara mikroskopik atau mikrofotografik. Bila terjadi peristiwa koalesensi/pengapungan, diameter rata-rata partikel akan berubah menjadi besar.
3. Distribusi Sifat Rheologi
       Kontrol sifat rheologi adalah penting, karena perubahan sifat tersebut dapat disebabkan proses fabrikasi maupun penyimpanan sehingga dapat mempengaruhi pemakaiannya.
4. Tes Penyimpanan yang Dipercepat
       Tes ini dimaksudkan untuk memperpendek waktu pengamatan kestabilan suatu sediaan suspensi. Dalam prakteknya agar diperoleh gambaran yang lebih mendekati keadaan yang sesungguhnya perlu dicari korelasi antara kondisi pengamatan yang dipercepat dengan pengamatan yang sesungguhnya dalam kondisi normal. Ada beberapa cara tes penyimpanan yang dipercepat :
a. Temperatur 40-60C
    Dengan penyimpanan pada suhu relatif tinggi, maka viskositasnya akan menurun dan
    seterusnya akan mempengaruhi kestabilan fisika emulsi.
b. Sentrifugasi
    Pemusingan pada kecepatan tertentu akan menaikkan harga g (gravitasi) pada rumus Stokes,
    sehingga akan terjadi pemisahan partikel yang lebih cepat pula.
c. Shock Thermic
    Emulsi disimpan pada suhu tinggi dan rendah secara bergantian pada waktu tertentu, kemudian
    pada suhu kamar dan seterusnya diamati hasilnya.

Emulgator
Emulgator dapat digolongkan dalam beberapa jenis:
1. Surfaktan / SAA
Gambar 1. Molekul Surfaktan
        Surfaktan adalah suatu zat yang mempunyai gugus hidrofil dan lipofil sekaligus dalam molekulnya. Zat ini akan berada dipermukaan cairan atau antar muka dua cairan dengan cara terabsorbsi. Gugus hidrofil akan berada pada bagian air sedangkan gugus lipofil akan berada pada bagian minyak. Berdasarkan atas muatan yang dihasilkan bila zat ini terhidrolisa dalam air, maka sufaktan dapat dibagi menjadi :
a. Surfaktan Anionik
b. Surfaktan Kationik
c. Surfaktan Amfoterik
d. Surfaktan Non-ionik

2. Hidrokoloid
       Emulgator jenis ini dapat menstabilkan emulsi dengan cara membentuk lapisan yang rigid/kaku, bersifat viskoelastik pada permukaan minyak-air. Zat ini bersifat larut dalam air (menjadi koloid dengan adanya air) dan akan membentuk emulsi tipe o/w. Yang termasuk emulgator hidrokolid :
a. Gom, misalnya : gom arab, tragacant
b. Ganggang laut, misalnya : agar-agar, alginat, caragen
c. Biji-bijian
d. Selullosa, misalnya : CMC, MC
3. Zat Padat Halus yang Terdispersi
    Misalnya : bentonit, magnesium hidroksida dan aluminium hidroksida

Suspensi

       Suspensi adalah suatu bentuk sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
Karakteristik fisik suspensi yang baik :
1. Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap.
2. Jika digojog perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi kembali.
3. Suspensi kemungkinan memerlukan pengental untuk mengurangi kecepatan pengendapan dari partikel. Viskositas tidak boleh terlalu tinggi sehingga sulit dipindahkan dari wadah ke alat penakar (misal : sendok)
4. Suspensi harus tetap homogen sampai batas waktu tertentu minimal antara waktu pengocokan dalam wadah sampai dituang untuk sejumlah dosis yang diperlukan.
Alasan penggunaan sediaan suspensi antara lain :
1. Bahan obat tidak larut air tetapi masih dikehendaki dalam bentuk cair, misalnya untu pasien yang tidak bisa menelan tablet atau kapsul atau untuk sediaan parenteral.
2. Untuk obat tertentu, dalam bentuk suspensi lebih stabil daripada larutan, misalnya tetracyclin HCl yang dibuat dalam bentuk larutan akan cepat rusak, sedang tetracyclin base yang dibuat dalam bentuk suspensi akan lebih stabil.
3. Untuk obat tertentu, rasa dalam bentuk sediaan suspensi lebih enak dari pada larutan, misalnya : kloramfenikol dalam bentuk larutan rasanya pahit, sedangkan kloramfenikol palmitat/stearat dalam bentuk suspensi rasanya lebih enak.
4. Untuk tujuan "depo therapy", misalnya : injeksi suspensi intramuscular.
5. Lebih siap secara bioavailabilitas daripada bentuk tablet atau kapsul

Penggunaan suspensi antara lain:
1. Oral, misal : suspensi chloramphenicol palmitat
2. Injeksi (Intra Muscular), misalnya suspensi procain penicillin.
3. Rektal, misal suspensi paranitro sulfathiazol
4. Kulit, misal suspensi calamine

Faktor yang mempengaruhi stabilitas supensi antara lain :
1. Ukuran partikel
2. Sedikit banyaknya pergerakan partikel
3. Tolak-menolak antar partikel karena adanya muatan listrik pada partikel.
4. Konsentrasi suspensoid.

Cara pembuatan suspensi ada 2 :
1. Cara Pengendapan (presipitasi)
2. Cara Langsung (dispersi)

Pada pembuatan suspensi dikenal 2 macam sistem :
1. Sistem Flokulasi
       Dalam sistem flokulasi partikel terflokulasi adalah terikat lemah cepat mengenap dan pada penyimpanannya tidak terjadi "cake" dan mudah tersuspensi kembali. Sifat-sifat partikel Flokulasi :
a. Partikel merupakan agregat yang bebas
b. Sediaan terjadi cepat, partikel mengendap sebagai flok yaitu kumpulan partikel.
c. Sedimen terbentuk cepat.
d. Sedimen dalam keadaan terbungkus dan bebas, tidak membentuk cake yang keras, padat,
    dan mudah terdispersi kembali seperti semula
e. Ujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi cepat terjadi dan diatasnya terjadi
    cairan yang jernih dan nyata

2. Sistem Deflokulasi
       Dalam sistem ini, partikel terdeflokulasi mengenap perlahan dan akhirnya membentuk "cake" yang keras dan sukar tersuspensi kembali. Sifat-sifat partikel deflokulasi :
a. Patikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain :
b. Sedimentasi terjadi lambat, masing-masing partikel mengedap terpisah dan ukuran
    partikel adalah minimal.
c. Sedimentasi terbentuk lambat
d. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi kembali.
e. Ujud suspensi menyenangkan karena zat tersuspensi dalam waktu relatif lama. Terlihat
    bahwa endapan dan cairan atas berkabut

Peristiwa Flokulasi dan Deflokulasi :
       Ada beberapa cara dalam pembuatan suspensi. Pemilihannya tergantung pada apakah partikel akan terdeflokulasi atau flokulasi. Cara pertama dengan menggunakan structured vehicle yang berfungsi menjaga agar partikel tetap terdeflokulasi dalam suspensi. Yang kedua adalah menggunakan sistem terflokulasi sebagai suatu cara mencegah terbentuknya cake, sedangkan yang ketiga adalah kombinasi dari keduanya menghasilkan suatu suspensi dengan stabilitas optimal.

Sabtu, 07 Juli 2012

Tablet Salut

       Penyalutan tablet merupakan salah satu metode pembuatan obat tertua yang masih terus digunakan sampai sekarang. Dalam proses pembuatannya, tablet salut sendiri sangat membutuhkan keahlian dan ketrampilan sendiri dalam proses penyalutan. Selama 25 tahun terakhir terjadi berbagai macam perubahan mendasar mengenai proses penyalutan tablet. Penyalutan tablet bertujuan untuk melindungi zat aktif ari udara, kelembapan, atau cahaya; menutupi rasa dan bau yang tidak enak; membuat penampilan lebih menarik; dan mengatur tempat pelepasan dalam saluran cerna. Tablet salut terdiri atas beberapa macam, yaitu :
Tablet salut biasa (dragee)
Tablet salut ini disalut dengan gula dari suspensi dalam air yang mengandung serbuk tak larut, seperti pati, kalsium karbonat, talk, atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan gom akasia atau gelatin. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan yang lama dan memerlukan penyalut yang tahan air. Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet.
Tablet salut selaput ( Film-coated tablet)
Tablet ini disalut dengan hidroksipropilmetilselulosa, metilselulosa, hidroksipropilselulosa, Na-CMC, serta campuran selulosa asetat ftalat dan PEG yang tidak mengandung air atau mengandung air.
Tablet salut enteric ( enteric-coated tablet)
Tablet ini disebut juga tablet lepas tunda. Jika obat dapat rusak atau tidak aktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung, diperlukan penyalut enteric untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung.
Tablet salut Lepas Lambat (sustained-release tablet)
Tablet ini disebut juga tablet efek diperpanjang atau efek pangulangan. Tablet ini dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah diberikan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Uji sifat fisik Tablet

 Uji sifat fisik yang dilakukan terhadap tablet yang sudah jadi meliputi :
1. Keseragaman Bobot
    Menurut FI III (1979), Uji keseragaman bobot dilakukan dengan menimbang 20 tablet. Dihitung
    bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang
    masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari 5 % (CV < 5%).
    Dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari 10% bobot rata-ratanya.
2. Kekerasan Tablet
 
Stokes Tablet Hardness Tester Model 539
(diambil dari : www.ccstabletpress.com) 
Tujuan dilakukan uji kekerasan tablet adalah untuk memperoleh gambaran tetang ketahanan tablet
melawan :
- Tekanan mekanik (goncangan)
- Tekanan pada saat pembungkuran, pengangkutan,
   dan penyimpanan.
Kekerasan tablet yang baik berkisat 4-8 kg dan 7-12 kg untuk tablet kunyah. Alat yang digunakan untuk uji kekerasan tablet adalah Stokes Monsanto Hardness Tester.
Sebuah tablet diletakkan pada ujung alat dengan posisi vertikal, kemudian spiral pada bagian bawah skala diputar perlahan-lahan sampai tablet pecah. Dibaca skala yang dicapai pada tablet tepat hancur (Gauhar, 2006)
3. Kerapuhan Tablet (Friability Test)
Tablet Friability Apparatus
(diambil dari : www.pharmlabs.unc.edu)

Friability test adalah sebuah metode untuk menentukan / mengukur kekuatan fisik tablet non salut terhadap tekanan mekanik atau gesekan
Uji kerapuhan tablet menggunakan alat friability atau abrasive test
Cara penggunaan alat :
20 tablet yang telah dibebasdebukan dan ditimbang dimasukkan ke dalam alat dan diputar selama 4 menit, 25 rpm.
Tablet dikeluarkan dari alat dan ditimbang bobot masing-masing tablet
Hitung prosentasi kehilangan bobot yang dialami tablet oleh alat tersebut.
Tablet yang baik mempunyai kerapuhan kurang dari 0,8% atau 1%.


4. Keseragaman Kandungan
    Untuk zat aktif kurang dari 50% bobot total tablet atau dosis kecil keseragaman kandungan dicek
    satu persatu
5. Waktu Hancur
    Waktu hancur merupakan waktu yang dibutuhkan untuk hancurnya tablet menjadi partikel-
    partikel penyusunnya bila kontak dengan cairan. Waktu hancur tablet juga menggambarkan
    cepat lambatnya tablet hancur dalam cairan pencernaan (Gauhar, 2006)
    Dimasukkan 5 tablet ke dalam tabung berbetuk keranjang, kemudian diturunnaikkan tabung
    secara teratur 30 kali setiap menit dalam medium air dengan suhu antara 36-38 derajat celcius.
    Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas kaca. Dicatat lama
    waktu hancur tablet (Anonim, 1979).
    Alat yang digunakan sama dengan alat yang digunakan pada uji disolusi tablet
6. Disolusi
Tablet disintegration tester
(diambil dari : www.pharmalab.org)
Disolusi adalah proses melarutnya zat padat dalam cairan medium tertentu. Parameter yang dapat ditentukan dari proses disolusi adalah kecepatan disolusi. Kecepatan disolusi atau kecepatan pelarutan   merupakan kecepatan larut zat aktif dari sediaan farmasi atau granul atau partikel sebagai pecahnya bentuk sediaan tersebut setelah berhubungan dengan cairan pelarut.
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air atau dimasukkan ke dalam saluran cerna, obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya. Kalau tablet tersebut tidak dilapisi polimer, matriks

     dapat juga mengalami disintegrasi menjadi granul-granul dan granul-granul ini mengalami
     pemecahan menjadi partikel-partikel yang halus. Disintegrasi, degradasi, dan disolusi bisa
     berlangsung serentak dengan melepasnya suatu obat dari bentuk dimana obat tersebut
     diberikan.
    -kelarutan obat dalam media yang cocok sesuai dengan monografi
    -dinyatakan dalam DE atau T45 atau C45
7. Daya serap
    -untuk mengamati pengaruh bahan penghancur di dalam formula tablet
    -Dinyatakan berat air yang diserap sampai di setiap menit tertentu

Daftar Pustaka :
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi II, Jakarta : Departemen Kesehatan  Republik Indonesia
Gauhar, A., 2006, Optimasi Formula Tablet Kunyah Susu Kuda Liar dengan Bahan Pengisi Serbuk
           Jahe (Zingiber officinale, Rose) Instan dan Manitol dengan Metode Simplex Lattice Design.
           Skripsi, Yogyakarta : UAD

Selasa, 20 September 2011

Permasalahan dalam Pentabletan

Permasalahan dalam Pentabletan
1.  Binding
     Tablet melekat pada dinding ruang cetak pada saat pengeluaran tablet (ejection).
     Binding yang berlebihan dapat mengakibatkan tablet pecah berkeping-keping.
     Penyebab : Kekurangan zat pelicin
     Cara untuk mengatasi :
     a.  Menambah zat pelicin
     b.  Menggunakan pelicin yang tepat
     c.  Menjaga kebersihan puch dan die
     d.  Pentabletan dilakukan pada ruangan dengan temperatur dan tekanan yang rendan.
2.  Sticking
     Sebagian kecil permukaan tablet menempel pada punch, dan lama kelamaan bagian tablet yang menempel semakin besar selama proses pengempaan.
     Penyebab : pemberian pelicin yang kurang tepat atau campuran kurang kering
     Cara untuk mengatasi :
     a.  Menurunkan kelembaban atau kadar air dengan pengeringan
     b.  Menambahkan adsorben
3.  Capping dan lamination
     Capping adalah kerusakan bagian atas atau pinggir atau tablet retak diseputar tepi tablet atau bahkan
     terpisah dari bagian yang lain karena ada udara yang terjebak dalam tablet. Istilah lain untuk menunjukkan kondisi yang sama terutama pada kecepatan pentabletan yang tinggi (misal : mencetak 3000 tablet
     permenit) disebut lamination.
     Penyebab Capping :
     a.  Ada udara yang terjebak dalam tablet
     b.  Terlalu banyak fine yang terdapat dalam campuran (granul).
     c.  Granul kurang kering
     Cara mengatasi : 
     a.  Menghilangkan atau mengurangi fine dengan penyaringan granul menggunakan 100-200 mesh
     b.  Menambah zat pengikat.
4.  Chipping dan Cracking
     Chipping : penyumbatan tablet
     Cracking : Chipping pada pusat bagian atas dari tablet
     Penyebab : faktor mesin tablet seperti salah setting
     Cara mengatasi : mengganti punch atau menaikkan tekanan mesin tablet.

Jenis-Jenis Tablet ; Part II

 Jenis-jenis Tablet Part II

7.  Tablet Effervescent
          Yaitu tablet berbuih yang dibuat dengan cara kompresi granul yang mengandung garam effervescent atau bahan-bahan lain yang mampu melepaskan gas atau berbuih ketika bercampur dengan air (Ansel, 1985). Tablet effervecent dimaksudkan untuk menghasilkan larutan secara tepat dengan menghasilkan CO2 secara serentak. Tablet khususnya dibuat dengan jalan pengempa bahan-bahan aktif dengan campuran asam-asam organik seperti asam sitrat, asam tartat dan natrium bikarbonat. Bila tablet dimasukkan dalam air, mulailah terjadi reaksi kimia antara asam dan menghasilkan CO2 serta air. Reaksinya cukup cepat dan biasanya selesai dalam waktu satu menit atau kurang. Disamping menghasilkan larutan yang jernih, tablet ini juga menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang membantu memperbaiki rasa beberapa obat tertentu. Keuntungan tablet Effervesent sebagai bentuk obat yaitu kemungkinan penyiapan larutan dalam waktu seketika, yang mengandung dosis obat yang tepat. Disamping itu tablet ini juga memiliki kerugian dan merupakan salah satu alasan untuk menjelaskan mengapa pemakaiannya terbatas, ialah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia, bahkan kelembaban udara selama pembuatan produk mungkin sudah cukup untuk memulai reaktivitas effervescent, selama reaksi berlangsung air yang dibebaskan dari bikarbonat menyebabkan autokatalisis dari reaksi, kelambapan udara disekitar tablet sesudah wadahnya dibuka juga menurunkan kualitas yang cepat dari produk (Lachman dkk., 1989)
8.  Tablet Hipodermik (HT)
          Yaitu tablet untuk dimasukkan di bawah kulit, merupakan tablet triturat, biasanya digunakan oleh dokter untuk membuat larutan parental secara mendadak yaitu menyiapkan obat injeksi yang berhubungan dengan volume dan kekuatan obat yang diinginkan disesuaikan dengan kebutuhan pasien secara perorangan (Ansel, 1985).
9.  Tablet Barbiturat
          Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder, dibuat dengan cetakan atau dibuat dengan kompresi, biasanya mengandung sejumlah kecil obat keras. Tablet triturat harus cepat dan mudah larutnya dalam air, dalam formulanya biasanya selalu dihindari bahan yang tidak larut dalam air (Ansel, 1985). Tablet triturat harus cepat dan mudah larut seluruhnya dalam air sehingga bila tablet ini dibuat dengan jalan kompresi, maka tekanan atau kompresi yang diperlukan kecil. Beberapa tablet triturat biasanya digunakan untuk pemberian obat secara oral, dan beberapa penggunaan di bawah lidah contohnya tablet nitrogliserin. Para ahli  farmasi menggunakan tablet ini dalam mengolah campuran obat untuk membuat bentuk sediaan cairan atau padat lainnya. Misalnya, tablet biasa dengan mudah diisikan ke dalam kapsul untuk menyediakan obat keras dalam jumlah yang tepat. Tablet ini oleh ahli farmasi juga digunakan untuk melindungi sediaan cair seperti yang tertulis dalam resep dengan cara melarutkan sejumlah larutan dari tablet dalam sedikit air, kemudiaan dibuat sediaan ini, volumenya dibuat sesuai dengan obat campuran yang telah diperkuat (Ansel, 1985)
10.  Tablet dengan Pelepasan Terkendali
            Tablet yang pelepasan obatnya secara terkendali dan secara ideal proses tersebut diharapkan berlangsung pada laju yang konstan tanpa tergantung pada pH dan kandungan ion pada semua bagian saluran cerna. Tujuan utama dari suatu produk obat pelepasan terkendali adalah untuk mencapai efek terapetik yang diperpanjang, disamping juga untuk memperkecil efek samping yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh adanya fluktuasi kadar obat dalam plasma (Ansel, 1985)
11.  Tablet Pembagi
            Yaitu tablet untuk membuat resep lebih tepat jika disebut tablet campuran, karena para ahli farmasi memakai tablet ini untuk pencampuran dan tidak pernah diberikan kepada pasien sebagai tablet itu sendiri. Tablet ini mengandung sejumlah besar bahan obat keras dan diolah untuk membantuk ahli farmasi dan memungkinkan mereka mendapat dengan cepat ketepatan dan mengukur obat keras yang berpotensi dalam menyiapkan bentuk sediaan padat atau cair lainnya. Pengencer atau dasar dari tablet biasanya dalam air untuk memungkinkan membuat larutan berair yang jernih. Tablet-tablet ini dibuat dengan jalan mencetak atau kompresi. Bahan penghancur, pelicin, zat warna, zat penambah rasa dan penyalut tidak diperlukan dalam pembuatan tablet ini. Terutama karena bahaya sekali jika kurang hati-hati sehingga obat ini sampai kepada pasien, sekarang tablet pembagi tidak digunakan lagi. Saat ini para ahli farmasi lebih umum memakai tablet kompresi atau tablet triturat yang dibuat untuk perdagangan dalam mencampur resep dan obat-obat yang tidak tersedia sebagai bahan baku, tetapi tersedia dalam bentuk sediaan obat (Ansel, 1985)
12.  Tablet Implantasi
            Tablet implantasi atau tablet depo dimaksudkan untuk ditanam di bawah kulit manusia atau hewan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan efek obat dalam jangka waktu yang lama, berkisar dari satu bulan sampai satu tahun. Dibuat sedemikian rupa agar obat yang terkadung dilepaskan dengan kecepatan yang konstan. Penggunaan utama dari tablet implementasi dan bentuk depo adalah untuk pemberian hormon pertumbuhan pada hewan penghasil makanan (Lachman dkk., 1989)
13.  Troches dan Lozenges (Tablet Isap)
            Kedua jenis tablet ini adalah bentuk lain dari tablet untuk pemakaian dalam rongga mulut. Penggunaannya dimaksudkan untuk memberi efek lokal pada mulut atau kerongkongan. Bentuk tablet ini umtumnya digunakan untuk mengobati sakit tenggorokan atau untuk mengurangi batuk pada influenza. Lozanges dapat dibuat dengan mengempa sedangkan troches dibuat dengan cara kempa seperti halnya tablet lain. Kedua jenis tablet ini dirancanga agar tidak mengalami kehancuran di dalam mulut, tetapi larut atau terkikis secara perlahan-lahan dalam jangka waktu 30 menit atau bahkan kurang (Lachman dkk., 1989)

Jumat, 16 September 2011

Jenis-Jenis Tablet ; Part I

Jenis-Jenis Tablet
1.  Tablet Kompresi
            Tablet kompresi dibuat dengan sekali tekan menjadi berbagai bentuk tablet seukuran, biasanya ke dalam bahan obatnya diberi tambahan sejumlah bahan pembantu seperti perekat dan pengisi yang ditambahkan guna membentuk ukuran tablet yang diinginkan. Pengikat atau perekat, yang membantu perlekatan partikel dalam formulasi dan memungkinkan granul dibuat dan dijaga keterpaduan hasil akhir tabletnya. Bahan penghancur akan memecah atau menghancurkan tablet setelah pemberian sampai mejadi partikel-partikel yang lebih kecil, sehingga lebih mudah diabsorbsi. Zat pelicin yaitu zat yang meningkatkan aliran bahan memasuki cetakan tablet dan mencegah melekatnya bahan pada punch dan die serta membuat tablet jadi bagus dan mengkilap. Juga bahan tambahan seperti zat pewarna dan pemberi rasa.
2.  Tablet Kompresi Ganda
           Yaitu tablet kompresi berlapis, pembuatannya membutuhkan lebih dari satu kali tekanan. Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan atau tablet di dalam tablet. Lapisan dalamnya disebut inti, lapisan luarnya disebut kulit. Biasanya tiap bahan campuran obat mengandung unsur obat yang berbeda dan dipisahkan satu dengan yang lainnya karena tak tersatuakan, untuk menyediakan obat yang pelepasannya dalam dua tingkatan atau lebih untuk penampilan tablet berlapis yang unik, pada umumnya tiap lapis diberi warna yang berbeda sehingga berwarna-warni (Ansel, 1985). Tablet dalam kategori ini biasanya dibuat untuk memisahkan secara fisika dan kimia bahan-bahan yang tidak bisa bercampur, atau untuk menghasilkan produk dengan kerja ulang atau produk dengan kerja yang diperpanjang (Lachman dkk., 1989)
3.  Tablet Salut Gula
          Yaitu tablet kompresi yang disalut dengan bahan penyalut tambahan. Tablet kompresi ini mungkin diberi lapisan gula berwarna dan mungkin juga tidak, lapisan ini larut dalam air dan dapat terurai begitu ditelan. Penyalut yang digunakan seperti dengan lapisan gula (tablet salut gula), dengan selaput tipis yang larut atau tidak di dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet (tablet salut selaput), dengan lapisan yang tak larut atau hancur di dalam lambung tapi di usus (tablet salut enterik), manfaat penyalutan ini adalah untuk melindungi obat dari udara dan kelembaban, memberikan rasa, menghilangkan bau dan rasa pahit dari obat, menjaga stabilitas obat yang terurai oleh asam lambung. Kerugian tablet salut gula adalah pengolahannya membutuhkan waktu dan keahlian lebih, menambah berat dan ukuran tablet. (Ansel, 1985)
4.  Tablet Salut Selaput
          Tablet yang disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet. Kelebihan : lebih tahan lama, lebih sedikit bahan. Tablet salut selaput pecah dalam saluran lambung-usus.
5.  Tablet Salut Enterik
          Tablet salut enterik adalah tablet yang disalutkan dengan lapisan yang tidak melarut atau hancur di lambung tapi di usus. Digunakan untuk obat-obat yang rusak jika terkena asam labung, mengiritasi mukosa lambung, atau bila melintasi lambung menambah absorbsi obat di usus halus sampai jumlah yang berarti.
6.  Tablet Sublingual /Bukal
          Yaitu tablet yang disisipkan di pipi dan dibawah lidah. Biasanya berbentuk datar, tablet oral yang direncakan larut dalam kantung pipi atau dibawah lidah untuk diabsorbsi melalui mukosa oral, gunanya untuk penyerapan obat yang dirusak oleh cairan lambung dan atau sedikit diabsorbsi oleh saluran pencernaan, Tablet untuk disisipkan pada pipi agar hancur dan melarut perlahan sedan yang digunakan melalui bawah lidah akan melarutkan segera untuk memberikan efek obat dengan cepat (Ansel, 1985). Obat-obatan yang diberikan dengan cara ini dimaksudkan agar memberikan efek sistemik dan karena itu harus dapat diserap dengan baik oleh selaput lendir mulut. Obat yang diserap dari selaput lendir masuk ke aliran darah, selanjutnya masuk ke aliran darah umum. Keuntungan :
a.  menghindari penguraian obat di lambung,
b.  efek lebih cepat daripada obat yang ditelan,
c.  first pass efek metabolism dapat dihindari
d.  menghidari rasa mual akibat menelan obat
Tablet bukal dan sublingual hendaknya diracik dengan bahan pengisi yang lunak, yang tidak merangsang keluarnya air liur, hal ini mengurangi bagian obat yang tertelan dan lolos dari penyerapan oleh sepaut lendir mulut dan juga kedua tablet ini juga dirancang untuk tidak peah, tapi larut secara lambat biasanya dalam jangka waktu 15-30 menit agar penyerapan beralangsung baik (Lachman dkk., 1989)

To be continue.... Jenis-Jenis Tablet Part II

Tablet

Tablet

Tablet adalah sediaan padat mengandung dengan bahan obat atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatannya, dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa. Tablet kempa dibuat dengan cara memberi tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. (Gauhar, 2006)

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu tablet yang berkualitas bak adalah :
a.  Kekerasan yang cukup dan tidak rapuh, sehingga selama fabrikasi dan pengangkutan sampai pada konsumen tetap dalam kondisi baik.
b.  Dapat melepaskan obatnya sampai pada ketersediaan hayati.
c.  Memenuhi persyaratan keseragaman bobot tablet dan kandungan obatnya.
d.  Mempunyai penampilan yang menyenangkan baik mengenai bentuk, warna dan rasa (Seth dkk., 1980)
Keuntungan Tablet :
a.  Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua
     bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah.
b.  Biaya produksi yang paling rendah.
c.  Bentuk ringan, kompak, murah, mudah dikemas, mudah diproduksi secara masal dan mudah
     dikirimkan.
d.  Pemberian randa pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah, tidak memerlukan
     langkah pekerjaan hambatan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram
     atau berhiasan timbul
e.  Tablet bisa dijadikan produk dengan profil pelepasan kusus, seperti pelepasan di usus atau
     produk lepas lambat.
f.  Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan
    stabilitas mikrobiologi yang paling baik (Banker dan Anderson, 1986)

Kerugian Tablet : 
a.  Beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padatan kompak, tergantung pada keadaan
     amorf dan rendahnya berat jenis.
b.  Obat yang kelarutannya rendah, dosisnya tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui
     saluran cerna akan sukar atau tidak mungkin diformulasi dan difabrikasi.
c.  Obat yang mempunyai rasa pahit, bau yang tidak dapat dihilangkan, peka terhadap
     oksigen dan kelembaban udara, perlu dilakukan pengkapsulan, penyelubungan dan
     memerlukan penyalutan dulu sebelum dikempa (Banker dan Anderson, 1986)