Tampilkan postingan dengan label Nyeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyeri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2012

Faktor Resiko Osteoarthritis (OA)


Faktor Risiko
Gambar 1. Sendi yang mengalami Osteoarthritis (OA)
       Faktor Resiko adalah setiap atribut, karakteristik, atau paparan dari seorang individu yang meningkatkan kemungkinan berkembangnya suatu penyakit atau cedera. Berikut ini merupakan Faktor Resiko dari penyakit Osteoarthtritis (OA) : 
Obesitas
       OA panggul, lutut, dan tangan sering dihubungkan dengan peningkatan berat badan. Obesitas merupakan penyebab yang mengawali OA, bukan sebaliknya bahwa obesitas disebabkan immobilitas akibat rasa sakit karena OA. Pembebanan lutut dan panggul dapat menyebabkan kerusakan kartilago, kegagalan ligamen dan dukungan struktural lain. Setiap penambahan 1 kg meningkatkan risiko terjadinya OA sebesar 10%. Bagi orang yang mengalami obesitas, setiap penurunan berat walau hanya 5 kga akan mengurangi faktor risiko OA dikemudian hari.

Okupasi, Olahraga, Trauma        
       Hubungan antara okupasi dengan risiko terserang OA tergantung dari tipe dan intensitas aktivitas fisiknya. Aktivitas dengan gerakan berulang atau cedera akan meningkatkan risiko terjadinya OA. Aktivitas fisik dengan tekanan berulang pada tangan atau tubuh bagian bawah akan meningkatkan risiko OA pada sendi yang terkena tekanan. Yang menarik adalah pada pelari jarak jauh mempunyai risiko terjadinya OA tidak lebih besar. Umur pada saat cedera akan mempengaruhi peningkatan risiko OA. Cedera ligamen pada manula cenderung menyebabkan OA berkembang lebih cepat dibanding orang muda dengan cedera yang sama.
Genetik
       Faktor keturunan mempunyai peran terhadap terjadinya OA. Sinovitis yang terjadi acapkali dihubungkan dengan adanya mutasi genetik, yaitu gen Ank. Gen tersebut berkaitan dengan peningkatan pirofosfat intraselular dua kali lipat, dimana deposit pirofosfat diyakini dapat menyebabkan sinovitis. Pengaruh faktor genetik mempunyai kontribusi sekitar 50% terhadap risiko terjadinya OA tangan dan panggul, dan sebagian kecil OA lutut.
Nutrisi
       Fakta menunjukkan bahwa paparan terhadap oksidan bebas secara terus menerus dalam jangka waktu lama berkontribusi terhadap berkembangnya penyakit yang berkaitan dengan penuaan (penyakit degeneratif), termasuk OA. Karena antioksidan dapat memberikan perlindungan terhadap kerusakan jaringan, maka asupan tinggi dari antioksidan dipostulasikan dapat melindungi pasien terhadap OA.
       Metabolisme normal dari tulang tergantung pada adanya vitamin D. Kadar vitamin D yang rendah di jaringan dapat mengganggu kemampuan tulang untuk merespons secara optimal proses terjadinya OA dan akan mempengaruhi perkembangannya. Kemungkinan Vitamin D mempunyai efek langsung terhadap kondrosit di kartilago yang mengalami OA, yang terbukti membentuk
kembali reseptor vitamin D.
Hormonal
       Pada kartilago terdapat reseptor estrogen, dan estrogen mempengaruhi banyak penyakit inflamasi dengan merubah pergantian sel, metabolisme, dan pelepasan sitokin. Perempuan perimenopause rupanya lebih cenderung menderita arthritis inflamatorik. Ini memberi kesan bahwa estrogen berperan dalam osteoarthritis. Tampaknya perempuan yang mendapat estrogen replacement therapy mempunyai kemungkinan menderita osteoarhtritis lebih kecil daripada yang
tidak, tetapi studi estrogen dan osteoarthritis pada binatang memberikan hasil yang bertentangan.
       Berdasarkan Panel on Exercise and Osteoarthritis, Exercise Prescription for Older Adults with Osteoarthritis Pain; The American Geriatrics Society.
Tabel 1
Faktor Risiko untuk OA
Hubungan antara Osteoarthritis dengan Osteoporosis
Terdapat hubungan terbalik antara osteoarthritis dan osteoporosis. Pada penderita OA, perempuan maupun laki-laki mengalami peningkatan kepadatan mineral tulang pada beberapa tempat di tulang kerangka. Hubungan tersebut timbul karena kondisi kedua penyakit diatas sama-sama dipengaruhi oleh berat badan. Orang gemuk mempunyai densitas tulang yang lebih tinggi, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya OA. Walaupun pasien OA umumnya berisiko
rendah terhadap osteoporosis, mereka tidak terlindungi dari retak tulang. Pasien OA tubuhnya tidak stabil dan cenderung mudah jatuh. Dengan demikian meskipun kepadatan tulangnya cukup tinggi, risiko terjadinya fraktur sama dengan pasien osteoporosis.

Keyword : Faktor Resiko, Osteoarthritis (OA), Obesitas, Hormonal, Nutrisi, Genetik, Trauma

Kamis, 28 Juni 2012

PENGENALAN PENYAKIT ARTHRITIS

PENGENALAN PENYAKIT ARTHRITIS
       Arthritis adalah istilah umum untuk peradangan (inflamasi) dan pembengkakan di daerah persendian. Terdapat lebih dari 100 macam penyakit yang mempengaruhi daerah sekitar sendi. Yang paling banyak adalah Osteoarthritis (OA), arthritis gout (pirai), arthritis rheumatoid (AR), dan fibromialgia. Gejala klinis yang sering adalah rasa sakit, ngilu, kaku, atau bengkak di sekitar sendi. Arthritis dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh; menyebabkan rasa sakit, kehilangan kemampuan bergerak dan kadang bengkak. Beberapa tipe arthritis 1:
1.    Osteoarthritis (OA)
Merupakan penyakit sendi degeneratif yang progresif dimana rawan kartilago yang melindungi ujung tulang mulai rusak, disertai perubahan reaktif pada tepi sendi dan tulang subkhondral yang menimbulkan rasa sakit dan hilangnya kemampuan gerak.
Insidensi dan prevalensi OA berbeda-beda antar negara. Penyakit ini merupakan jenis arthritis yang paling sering terjadi yang mengenai mereka di usia lanjut atau usia dewasa.
2.    Arthritis gout (pirai)
Arthritis jenis ini lebih sering menyerang laki-laki.
Biasanya sebagai akibat dari kerusakan sistem kimia tubuh. Kondisi ini paling sering menyerang sendi kecil, terutama ibu jari kaki. Arthritis gout hampir selalu dapat dikendalikan oleh obat dan pengelolaan diet.
3.    Arthritis Rheumatoid (AR)
Merupakan penyakit autoimun, dimana pelapis sendi mengalami peradangan sebagai bagian dari aktivitas sistem imun tubuh.
Arthritis rheumatoid adalah tipe arthritis yang paling parah dan dapat menyebabkan cacat, kebanyakan menyerang perempuan hingga tiga sampai empat kali daripada laki-laki.
4.    Ankylosing spondilitis
Tipe arthritis yang menyerang tulang belakang. Sebagai akibat peradangan, ruas tulang punggung tampak tumbuh menyatu.
5.    Juvenile arthritis (arthritis pada anak-anak)
Istilah umum bagi semua tipe arthritis yang menyerang anak-anak. Anak-anak dapat terkena Juvenile Rheumatoid Osteoarthritis atau lupus anak, ankylosing spondylitis atau tipe lain dari arthritis.
6.    Systemic Lupus Erythematosus (lupus)
Penyakit yang dapat menyebabkan radang dan merusak sendi serta jaringan penyambung (connective tissue) seluruh tubuh secara serius.
7.    Schleroderma
Penyakit yang menyerang jaringan penyambung pada seluruh tubuh yang menyebabkan penebalan dan pengerasan kulit
8.    Fibromyalgia
Rasa sakit yang menyebar pada otot-otot dan menjalar ke tulang. Kebanyakan menyerang perempuan.

Istilah-istilah pada Arthritis

Amyloidosis : Sekelompok keadaan dengan bermacam-macam etiologi yang ditandai dengan penimbunan protein fibrilar yang tak dapat larut (amiloid) dalam berbagai organ dan jaringan tubuh sehingga fungsi vital terganggu. Keadaan penyakit terkait dapat berupa radang, penyakit herediter, atau neoplastik, dan deposisinya dapat terjadi setempat atau generalisata atau sistemik.
Arkus : Lengkung
Arthralgia : Nyeri sendi
Arthrocentesis : Fungsi dan aspirasi suatu sendi
Articular : Dari atau yang berkenaan dengan sendi
Atrophy : Pengurusan atau pengecilan ukuran suatu sel, jaringan,organ atau bagian tubuh
Biofeedback : Proses penyediaan suatu informasi individual, biasanya dengan pola akustik atau visual, pada satu atau beberapa variable fisiologis seperti nadi, tekanan darah atau suhu kulit, hal ini memungkinkan individu memperoleh sejumlah kontrol voluntary terhadap variabel fisiologis yang diamati.
Body Mass Index (BMI) : Berat badan dalam kg dibagi dengan kuadrat tinggi dalam meter
Calcific : Membentuk kapur
Calculi : Batu
Cartilage : Jaringan penyambung fibrosa
Carpus : Pergelangan tangan
CBC :Complete Blood Count
Cholestatic :Penghentian atau supresi aliran empedu, dengan penyebab intrahepatik atau ekstra hepatik
Comorbid :Berkenaan dengan suatu penyakit atau proses patologi lain yang berlangsung secara bersamaan.
Constitutive :Dihasilkan secara terus menerus atau dalam jumlah yang tetap, tanpa memperhatikan kondisi lingkungan atau kebutuhan.
CPPD :Calcium Pyrophosphate Dihydrate
Crepticus :(bony crepticus= bunyi gemeretak tulang)
Disability :Hilangnya kemampuan untuk berfungsi secara normal, secara fisik atau mental; cacat.
Disorder : Fungsi tidak normal
Dispepsia :Terganggunya fungsi pencernaan, rasa tidak nyaman pada epigastrum setelah makan.
Distal - jauh
Epidemic: - Menyerang banyak orang di daerah yang sama, pada waktu yang sama
Epidemiologi - Ilmu mengenai studi terhadap faktor-faktor yang menentukan dan mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, perlukaan dan peristiwa lain yang berhubungan dengan kesehatan serta penyebabnya, pada suatu populasi manusia tertentu dengan tujuan menciptakan program guna mencegah dan mengendalikan perkembangan dan perluasannya. Juga keseluruhan ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam studi tersebut.
Exercise :Latihan fisik, gerak badan
Exfoliative :Pengelupasan dalam bentuk sisik atau lapisan
Gastrointestinal : Berkenaan, dengan atau bersambungan dengan lambung dan usus. Disebut juga enterogastric dan gastroenteric
Idiophati :Keadaan patologik yang timbul spontan atau tidak diketahui penyebabnya
Interphalangeal :Diantara dua falang yang berdekatan
Jaundice : Sindrom ditandai dengan hiperbilirubinemia dan penumpukan pigmen empedu di kulit, membrane mukosa dan sclera dengan akibat pasien kelihatan kuning, disebut juga ikterus
Lymphoproliferative :Ditandai dengan proliferasi sel sistim limforeticular, digunakan untuk merujuk neoplasma ganas.
Macula :Bercak, bintik atau penebalan
Matrix :Bahan intraselular jaringan atau jaringan tempat berkembangnya suatu struktur;
Medularis :Bagian paling dalam pada organ atau struktur
Metacarpus :Bagian tangan antara pergelangan dan jari
Metatarsus :Bagian kaki antara tarsus dan jari kaki
Metatarsophalangeal :Metatarsus dan phalanx jari kaki
Monosodium urate (MSU ) crystals :Tipe kristal yang terbentuk pada pasien GA (tanda pathognomonic dari GA)
Myelos :Sumsum
Myeloproliferative :Ditandai dengan proliferasi medularis dan ekstramedularis unsur-unsur sumsum tulang, termasuk eritoblast dll
Necrosis :Matinya sel/kelompok sel /bagian suatu struktur atau organ akibat perubahan morfologis akibat kerja enzim yang degradatif dan progresif.
Nephrolithiasis :Deposit dari berbagai kristal di ginjal, sering disebut batu
Nephropathy :Penyakit ginjal
Nociceptor :Suatu reseptor untuk nyeri yang disebabkan oleh cedera pada jaringan tubuh, cedera tersebut dapat berasal dari rangsang fisik seperti rangsang mekanik, termal, atau listrik atau dari rangsang kimia. Sebagian besar nociceptor berlokasi di kulit
Osteophytes :Tonjolan bertulang atau perumbuhan oseosa
Phalanx :Setiap tulang jari tangan atau jari kaki
Pathogenesis :Perkembangan penyakit
Pathognomonic :Karakter dari penyakit(ct, kristal MSU dalam cairan synovial dari pasien tersangka
Pathophysiology :Faal gangguan fungsi
Periarthritis :Radang jaringan di sekitar sendi
Periarticular :Terletak di sekitar sendi
Podagra :Waktu awal dari sendi metatarsophalangeal ibu jari kaki
Proliferation :Reproduksi atau multiplikasi bentuk-bentuk yang serupa, khususnya sel-sel dan kista morbid
Proximal :Paling dekat, lebih dekat dengan titik acuan, lawan kata distal
Pseudogout :Kondisi yang menyerupai GA. Ditandai dengan deposit dari calcium pyrophosphate dehydrate crystals
Tophi :Deposit asam urat, protein, dan sel inflamator yang terjadi pada pasien GA yang sudah lama
Unilateral :Hanya mengenai satu sisi
Excretion :Tindakan atau proses , fungsi ekskresi
Insidence : Laju dengan beberapa kejadian terjadi,ct: jumlah kasus baru suatu penyakit spesifik, yang terjadi selama satu masa tertentu pada populasi yang mempunyai risiko
Metatarsophalangeal :Berkenaan dengan metatarsus dan phalanx jari kaki
Metatarsus :Bagian kaki antara tarsus dan jari kaki
Myeloproliferative disorders :Suatu kelompok penyakit neoplasma, yang mungkin terkait secara histogenetisdengan sel induk multipotensial yang lazim, termasuk leukemia granulosit kronik dan akut,
Pandemi :Endemic yang meluas
Pathophysiology :The physiology of disorder function
Physiology :The science which treats of the functions of the living organism and its parts, and of the physical and chemical factors and processes involved
Polycystic :Mengandung atau terbentuk dari banyak kista
Polycythemia :Peningkatan jumlah total masa sel darah merah, di dalam darah.
Prevalence :Jumlah kasus penyakit yang terjadi dalam populasi pada waktu tertentu pada suatu titik waktu tertentu atau selama periode waktu.
Psoriasis : Dermatosis skuamosa (bersisik mirip lempengan) biasa yang kronis
Rheumatoid factor ( RF) :Antibodi yang ditujukan kepada determinan antigenik
Subcortical :Terletak dibawah kortex
Tarsus :Daerah persendian antara kaki dan tungkai bawaH
Therapy :Pelayanan yang dilakukan untuk orang sakit
Tophus :Deposit natrium urat yang berkapur yang terjadi pada penyakit pirai; bentuk tophi paling sering mengelilingi sendi-sendi pada kartilago, tulang, bursa, dan jaringan subkutan, dan pada telinga luar, menghasilkan respons peradangan kronik terhadap benda asing.
Treatment :Pengelolaan dan perawatan pasien dengan tujuan memberantas penyakit atau gangguan
Secretion :Proses penguraian suatu produk spesifik karena aktivitas kelenjar; aktivitas ini dapat berupa memisahkan zat spesifik dalam darah atau penguraian zat kimia baru. Setiap zat yang dihasilkan dengan sekresi
Xanthoma :Tumor yang mengandung sel-sel berbusa yang berisi leka, merupakan histiosit yang mengandung material lipid sitoplasm
Xanthomatosis : Suatu keadaan yang ditandai adanya xanthoma

Selasa, 25 Oktober 2011

LUPUS

Lupus yang Misterius
 
A. DEFINISI
Sistem kekebalan tubuh berperan penting dalam tubuh. Fungsinya adalah melindungi tubuh manusia dari serangan antigen seperti bakteri, virus, dan mikroba. Bagaimana bila sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan? Kondisi tersebut dapat memicu kemunculan penyakit lupus, yang pada 10 Mei ditetapkan sebagai hari Lupus sedunia. Walaupun penyakit tersebut sejak lama ada, tetapi lupus masih dianggap penyakit misterius karena belum diketahui pasti penyebab dan cara penyembuhannya hingga tuntas.
Lupus Eritematosus Sistemik ( SLE ) adalah suatu penyakit autoimun kronik yang menyerang berbagai system dalam tubuh. Semula SLE digambarkan sebagai suatu gangguan kulit, sekitar tahun 1800-an diberi nama lupus karena sifat ruamnya yang berbentuk “kupu-kupu”, melintasi tonjolan hidung dan meluas pada kedua pipi yang menyerupai gigitan serigala ( lupus adalah kata dalam bahasa latin yang berarti serigala ). SLE merupakan penyakit kelebihan kekebalan tubuh. Penyakit lupus terjadi akibat produksi antibodi berlebihan,sehingga tidak berfungsi menyerang virus, kuman, atau bakteri yang ada di dalam tubuh, melainkan justru menyerang system kekebalan sel dan jaringan tubuh sendiri.
"Lupus dikenal dengan penyakit 1.000 wajah, karena antara pasien lupus yang satu dengan pasien lupus yang lain mengalami keluhan yang berbeda-beda. Karena mereka menyerang bagian tubuh yang berbeda pula," tutur Prof Zubairi dokter yang juga menjadi penasihat medik Yayasan Lupus Indonesia. Lupus merupakan penyakit kelainan imunitas yang berpotensi menyerang seluruh bagian sistem tubuh manusia, baik jaringan, organ, darah, saraf, tulang, otak, maupun sel darah. "Lupus ini bisa menyerang bagian tubuh mana saja. Bisa merusak ginjal, trombosit, sendi, mengganggu otak, paru, jantung, juga bisa menyebabkan stroke, termasuk pada mata" jelas spesialis mata dr Sudarman Sjamsoe SpM.
Ada 3 (tiga) jenis penyakit Lupus yang dikenal yaitu:

1. Discoid Lupus, yang juga dikenal sebagai Cutaneous Lupus, yaitu: penyakit Lupus yang menyerang kulit.

2. Systemic Lupus, penyakit Lupus yang menyerang kebanyakan sistem di dalam tubuh, seperti kulit, sendi, darah, paruparu,
ginjal, hati, otak, dan sistem saraf. Selanjutnya kita singkat dengan SLE (Systemic Lupus Erythematosus).

3. Drug-Induced Lupus, penyakit Lupus yang timbul setelah penggunaan obat tertentu. Gejala-gejalanya biasanya
menghilang setelah pemakaian obat dihentikan.

.


           
B. ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI
            Setiap individu mempunyai gejala maupun faktor timbul yang berbeda. Penyakit tersebut memang tidak menular, tetapi bisa diturunkan karena faktor genetik. Faktor lingkungan seperti sinar matahari, obat, dan intervensi virus dapat menjadi penyebab timbulnya lupus.
Penyakit tersebut lebih banyak menyerang wanita dibanding pria. Sampai sekarang penyebabnya masih belum diketahui pasti. Tetapi salah satunya karena meningkatnya hormon estrogen yang merupakan hormon wanita. Kemunculannya yang menyerupai penyakit lain, menjadikan penyakit ini sering disebut sebagai penyakit 1.000 wajah. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian dari para dokter dalam mendiagnosis penyakit yang dialami orang dalam lupus ini (odapus). Penyakit tersebut umumnya rentan menyerang mereka yang berumur 15-44 tahun. Lupus merupakan penyakit yang menyerang orang-orang dalam keadaan sehat. Penyakit lupus awalnya tidak terlihat, maksudnya pada gejala awal tidak memperlihatkan bahwa si penderita ini terserang lupus. Mereka terlihat normal.
Penyakit lupus memang belum dikenal banyak orang. Adanya pendeteksian dini, diagnosis, dan penanganan yang cepat dan tepat pada orang yang mengalami gejala lupus sangat penting dilakukan untuk membantu menekan tingkat penyerangan lupus.
Selain faktor keturunan, faktor lingkungan seperti infeksi virus, cahaya matahari, dan obat-obatan diduga ikut berperan dalam timbulnya gejala.

C. GEJALA KLINIS
ü  Sakit pada sendi (Arthalgia) 95%
ü  Demam hampir mencapai 380C 90%
ü  Bengkak pada sendi (Arthritis)  90%
ü  Lelah yang berkepanjangan 81%
ü  Ruam pada kulit 74%
ü  Anemia 71%
ü  Gangguan ginjal 50%
ü  Sakit di dada saat mengambil nafas dalam (pleurisy) 45%
ü  Ruam bentuk kupu-kupu melintang pada pipi dan hidung 42%
ü  Sensitif pada matahari/sinar (photosensitive) 30%
ü  Rambut rontok 27%
ü  Gangguan pembekuan darah 20%
ü  Fenomena Raynaud’s (jari memutih dan atau biru saat dingin) 17%
ü  Stroke 15%
ü  Sariawan 12%
ü  Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari
ü  Gangguan pencernaan
ü  Pegal-pegal
ü  Pada darah terjadi penurunan jumlah eritrosit, leukosit, dan trombosit
ü  Pada sistem saraf terjadi gangguan otak, sumsum tulang belakang, dan saraf tepi yang menyebabkan pusing atau kejang
ü  Peradangan


D. DIAGNOSIS
            The American Rheumatism Association telah mengembangkan criteria untuk memilah SLE. Adanya empat atau lebih dari ke-11 kriteria baik secara serial maupan simultancukup untuk menegakkan diagnosis.
             1.    Ruam di daerah malar
             2.    Ruam discoid
             3.    Fotosensivitas
             4.    Ulkus pada mulut
             5.    Arthitis : tidak erosive, pada dua atau lebih sendi-sendi perifer
             6.    Serositis : Pleuritis atau perikarditis
             7.    Gangguan pada ginjal : Proteinuria persisten yang lebih dari 0,5 g/hari, atau adanya silinder selular
             8.    Gangguan neurologik : kejang-kejang atau psikosis
             9.    Gangguan hematologik : anemia hemolitik, leucopenia, limfopenia, atau trombositopenia
          10.    Gangguan imunologik : Sel-sel lupus eritematosus (LE) positif, Anti-DNA, anti-Sm, atau suatu uji serologic positif palsu untuk sifilis
          11.    Antibodi antinuclear (ANA)

Mengapa SLE sulit didiagnosa?

Karena SLE merupakan suatu penyakit yang menyerang banyak sistem tubuh, jadi sebelum keseluruhannya dapat
didiagnosa, dapat terjadi gejala-gejala di beberapa bagian tubuh dan dengan beberapa tes darah barulah dapat
mendukung ke beradaan penyakit ini.

SLE juga sulit didiagnosa karena penyakit ini merupakan tipe yang berkembang dengan lambat dan lama, di mana
gejalanya dapat datang dan pergi, jadi butuh waktu untuk membuktikan keberadaan penyakit ini di dalam darah, di mana
hasil pemeriksaan suatu saat positif dan disaat lain dapat menjadi negatif.

Ini membutuhkan waktu beberapa bulan bahkan beberapa tahun bagi dokter untuk dapat memberikan diagnosa yang
akurat untuk penyakit ini. SLE juga sulit didiagnosa karena tidak ada tes laboratorium khusus untuk penyakit ini.
Pemeriksaan SLE :
Pemeriksaan penyakit lupus ini bisa menggunakan uji laboratorium. …patofis hal 1394

Penegakan diagnosis :
  • CT scan otak dilakukan atas pertimbangan saat itu terjadinya perburukan dalam perawatan yang diduga akibat stroke.
  • Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan pilihan yang terbaik karena pemeriksaan tidak invasif dan sensitif dalam mengevaluasi kelainan pada medula spinalis2,13.

PROGNOSIS
Prognosis untuk SLE bervariasi dan bergantung pada keparahan,gejala, keparahan organ-organ yang terlibat,dan lama waktu remisi dapat dipertahankan.SLE tidak dapat disembuhkan penatalaksanaan ditujukan untuk mengatasi gejala.pronosis berkaitan dengan sejauh mana gejala-gejala ini dapat diatasi.

E. PATOFISIOLOGI
Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber
  penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi
  yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan.
 
Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat.
  Kelainan ini disebut autoimunitas .

 
Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua 
  cara  yaitu :.
  Pertama, antibodi aneh ini bisa   langsung menyerang   jaringan  sel tubuh, 
  seperti   pada sel-sel darah merah yang menyebabkan  selnya akan hancur. 
  Inilah yang  mengakibatkan  penderitanya kekurangan sel darah merah atau 
  anemia.

   Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pemben
  tukan  antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan 
  antibodi  dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pem
  buluh  darah   kapiler akan menimbulkan peradangan.

 
Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang 
  (fagosit)   Tetapi, dalam keadaan abnormal,  kompleks ini tidak dapat 
  dibatasi dengan   baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil 
  mengeluarkan  enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks.

 
Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak 
  organ  tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat 
  sebagai  gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang 
  fungsi organ  tubuh akan terganggu.

PATOGENESIS LES
Kelainan sistem imun pada LES ditandai dengan berbagai faktor dan lingkungan yang mampu mengubah sistem imun tersebut yang mungkin sudah didasari kelainan genetik, seper-ti erlihat pada gambar 1. Antigen dari luar yang akan diproses oleh makrofag (APC) akan menyebabkan berbagai keadaan seperti: apoptosis, aktivasi atau kematian sel tubuh, sedangkan beberapa antigen di tubuh tidak dikenal (selanjutnya disebut SelfAntigen) contoh nucleosomes, U1RP dan Ro/SS-A. Antigen tersebut akan
diproses seperti umumnya antigen lain oleh APC dan sel B. Peptida ini akan menstimulasi sel T dan akan diikat oleh sel Bpada reseptornya untuk selanjutnya menghasilkan suatu anti-bodi yang merugikan tubuh. Antibodi yang dibentuk oleh peptida ini dan antibodi yang dibentuk oleh antigen eksternal akan merusak organ target (glomerulus, sel endotel dan thrombosit). Di sisi lain antibodi juga dapat berikatan dengan antigennya untuk membentuk komplek imun (IC) yang dapat merusak berbagai organ tubuh bila terjadi endapan. Aktivasi sel T dan sel B tersebut sebetulnya akan di-
kontrol oleh gen-gen yang berbeda, yang mungkin dapat direspon tubuh dengan cara pembersihan antigen atau komplek imun di dalam sirkulasi. Perubahan abnormal di dalam sistem imun tersebut dapat mempresentasikan protein RNA, DNAdanphospholipid ke dalam sistem imun tubuh. Beberapa autoantibodi dapat me-liputi trombosit dan eritrosit karena antibodi tersebut dapat berikatan dengan glycoprotein II dan III di dinding trombosit dan eritrosit. Di sisi lain antibodi juga dapat bereaksi dengan antigen sitoplasmik trombosit dan eritrosit yang akhirnya akanmenyebabkan proses apoptosis
 pada penderita LES dan keadaan ini sering menimbulkan kerusakan jaringan bila terjadi pengendapan. Komplek imun
tersebut dapat juga berkaitan dengan komplemen yang akhir-nya berikatan dengan reseptor C3b di sel darah merah yang akan menimbulkan hemolisis. Bila komplek imun melalui hepar maka akan dieliminasi dengan cara mengikat C3bR dan bila melalui limpa akan diikat oleh FcR. IgG. Ketidakmampu-an kedua organ tersebut akan menimbulkan manifestasi klinik berupa hemolisis. Deposit komplek imun sirkulasi (CIC) tidak sederhana karena melibatkan aktivasi berbagai komplemen, PMN dan
berbagai mediator inflamasi lainnya yang timbul karena kerusakan/disfungsi sel endotel pembuluh darah. Berbagai keadaan sitokin yang terjadi pada LES ialah : penurunan jumlah IL-1dan peningkatan IL-6, IL-4 dan IL-6. Ketidakseimbangan sitokin ini dapat meningkatkan aktivasi sel B untuk membentuk antibodi.
Berbagai keadaan sel T dan Sel B yang terjadi pada LES:
1. Sel T Limfopenia ,Penurunan sel T supresor ,Peningkatan sel T helper ,Penurunan memori dan CD4 ,Penurunan aktivasi sel T supresor ,Peningkatan aktivasi sel T helper
2. Sel B ,Aktivasi dan poliklonal sel B ,Peningkatan terhadap respon sitokin

F. TERAPI
a). Farmakologi
Kebanyakan gejala penyakit Lupus adalah peradangan. Jadi pengobatan lebih banyak ditujukan untuk mengurangi peradangan tersebut. Ada 2 golongan besar obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit ini yaitu:
1.     Golongan corticosteroid
Merupakan obat utama
2.     Golongan noncorticosteroid,
Merupakan obat pelengkap, antara lain
·         Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs),
Untuk mengatasi keluhan nyeri dan bengkak sendi
·         Antimalarials
Untuk mengatasi gejala penyakit pada kulit, rambut, nyeri otot, dan sendi, misalnya klorokuin dan dihidroksiklorokuin
·         Obat imunosupressif, semacam siklofostamid untuk mengatasi kondisi yang disertai gangguan ginjal dan obat-obat cytotoxic, azatioprin yang merupakan obat pendamping kortokosteroid agar penggunaan kortikosteroid dapat dikurangi, dan klorambusil

b). Non Farmakologi
Rasa marah, kecewa, terkadang menutup diri, emosi, dan lebih sensitif lebih sering dialami odapus. Juga rasa takut akan perlakuan yang berbeda dari orang terdekat pasti timbul pada odapus atau rasa takut akan kehilangan orang terdekat. Berikan mereka perhatian yang lebih, jangan biarkan mereka depresi karena penyakit ini. Kasih sayang dan dukunganlah yang mereka butuhkan untuk bertahan sebagai odapus.

Tips hidup sehat bagi penderita odapus :
1)     Hati-hati di bawah sinar matahari
2)     Makan sehat dan seimbang
3)     Hangati pada saat sakit
4)     Olahraga
5)     Jangan merokok
6)     Mengatasi kelelahan
7)     Atasi demam atau infeksi
8)     Waktu kerja disesuaikan dengan kondisi
9)     Latihan pernafasan dan meditasi
10)  Diet sehat dengan vitamin dan mineral
11)  Menghindari daripada putus obat terutamanya steroida tanpa nasihat dokter yang merawat.
12)  Perlu mengikuti perawatan lanjutan di klinik-klinik yang mengobati pesakit-pesakit SLE.