Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2012

Sel MCF-7

Gambar 1. Sel MCF-7 (en.wikipedia.org)
      Sel MCF-7 (Michigan Cancer Foundation – 7) merupakan salah satu model sel kanker payudara yang banyak digunakan dalam penelitian. Sel tersebut diambil dari jaringan payudara seorang wanita Kaukasian berumur 69 tahun golongan darah O, dengan Rh positif, berupa sel adherent (melekat) yang dapat ditumbuhkan dalam media penumbuh DMEM atau RMPI yang mengandung Foetal Bovine Serum (FBS) 10% dan antibiotik Penicilin-Streptomycin 1% (Anonim, 2007). Sel MCF-7 memiliki karakteristik antara lain resisten agen kemoterapi (Mechetner dkk., 1998; Aouli dkk., 2003) mengekpresikan reseptor estrogen (ER+), overekspresi Bcl-2 (Butt dkk., 2000; Amundson dkk., 2000) dan tidak mengekpresikan caspase-3 (Onuki dkk., 2003; Prunet dkk., 2005). Sel MCF-7 tergolong cell line adherent (ATCC, 2008) yang mengekspresikan reseptor estrogen alfa (ER-α),  resisten terhadap doxorubicin (Zampieri dkk., 2002).

Jumat, 28 Oktober 2011

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

I.  PENGANTAR

Penelitian Skripsi Farmasi
Rancangan Kegiatan
Untuk memahami dan memecahkan masalah di bidang farmasi serta memperoleh pengetahuan baru,
secara: 
1.      ilmiah:  berdasarkan fakta atau data empiris
2.      sistematis:  menurut pola tertentu
3.      logis: berdasarkan penalaran.

Pola penelitian terdiri dari:
  1. Masalah
  2. Kajian Pustaka
  3. Hipotesis
  4. Variabel
  5. Instrumen
  6. Rancangan
  7. Sampel
  8. Data
  9. Hasil
  10. Laporan
Tiga langkah besar yang harus dilakukan:
  1. Penyusunan rancangan penelitian
  2. Pelaksanaan Penelitian
  3. Penulisan Laporan.
MENENTUKAN VARIABEL
Pengertian dan Macam Variabel Menurut Pengertian dan Macam Variabel:
Menurut Sutrisno Hadi, variable merupakan gejala yang bervariasi.
Misal: jenis kelamin: laki-laki dan perempuan,   berat badan= 40 kg, 50 kg.
Gejala adalah obyek penelitian.
Variabel adalah obyek penelitian yang bervariasi.
Variabel terdiri dari:
  1. Kuantitatif, misal luas kota, umur, banyaknya jam dalam sehari.
  2. Kualitatif, misal:  kemakmuran, kepandaian.
Variabel Kuantitatif, meliputi:
  1. Variabel diskrit/ variable nominal/ variable katagorik
Missal: ya dan tidak
            Laki-laki dan perempuan
            Hadir dan tidak hadir.
  1. Variabel Kontinum, meliputi:
    1. Variabel ordinal, misal: panjang, kurang panjang (pendek)
    Pandai, tidak pandai.
    1. Variabel interval, missal:  suhu luar 31o C
       Suhu tubuh 37o C
       Selisih suhu luar dan tubuh 6o C
    1. Variabel Rasio:  Variabel perbandingan
Missal: berat A 70 kg, berat B 35 kg.  Berat A 2xB

Kerangka  Proposal Penelitian Skripsi
Secara garis besar, proposal meliputi:
BAB I.  PENDAHULUAN
BAB II.  KAJIAN TEORI
BAB III.  METODE PENELITIAN

Setelah proposal dikerjakan, maka dibuat laporan dengan menambahkan:
BAB IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V.  KESIMPULAN DAN SARAN

Urutan Penyusunan Proposal
A.  Judul
Judul memuat jenis, obyek, subyek, metode, tempat dan waktu penelitian.
Jenis penelitian dapat ditinjau dari tujuan, kegunaan, metodenya.
Obyek penelitian : sasaran penelitian.
Subyek penelitian:  siswa, orang, atau benda tempat obyek berada.
Metode penelitian:  cara yang dipakai untuk mengumpulkan data dan mengolah data.
Judul tidak harus lengkap, tetapi harus selalu rigkas dan jelas.  Keterangan yang berhubungan dengan judul dapat dibahas pada batasan masalah.
B.  Ruang lingkup
            Ilmu pengetahuan dikelompokkan ke dalam:
Cabang
Bidang
Disiplin

            Penelitian mencakup: suatu disiplin, bidang atau gabungannya.

C.  Pendahuluan
1.  Latar Belakang
Masalah, timbul karena ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan
                                                     Cita-cita dan realita
                                                     Rencana – pelaksanaan
                     Ilmiah, sistematis, dan logis
                          Didapat hasil penelitian.

Bagian ini memberikan rasional mengapa masalah tersebut penting untuk diteliti, menarik perhatian peneliti, tidak menimbulkan masalah social, dalam jangkauan peneliti, baik dari segi akademis, biaya, tenaga, maupun waktu.
Penting di sini dimaksudkan penting untuk memecahkan masalah actual dan penting untuk pengembangan ilmu.
2.  Identifikasi Masalah
Kegiatan untuk menentukan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Faktor-faktor apa saja yang terkait dengan masalah tersebut, memilah-milah menjadi masalah yang lebih kecil.
Memilih masalah yang paling esensial untuk diteliti.
3.  Pembatasan Masalah
            Masalah perlu dibatasi agar terdapat dalam jangkauan peneliti.
4.  Perumusan Masalah
            Merupakan pertanyaan yang perlu dicari jawabannya melalui penelitian.
Masalah harus dirumuskan secara spesifik.  Penelitian tidak boleh terlalu luas, terlalu banyak, atau sudah diteliti oleh banyak orang lain.
            Perumusan masalah selalu dinyatakan dengan kalimat tanya.
5.  Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian disusun untuk menemukan jawaban masalah penelitian.  Harus ada hubungan y;ang jelas antara tujuan penelitian dengan perumusan masalah.  Tujuan penelitian selalu dinyatakan dengan kalimat deklaratif.
6.  Kegunaan Penelitian.        
            Kegunaan praktis untuk menjawab masalah-masalah mikro atau makro.  Kegunaan untuk penggembangan ilmu.

BAB. II
KAJIAN PUSTAKA
            Berisi kerangka teori yang merupakan deskripsi teori dan penelitian yang relevan.
A.  Deskripsi teori
            Disusun untuk mencari jawaban masalah.  Penelitian farmasi pada tingkat teoritik, peneliti perlu mengkaji sumber acuan pokok.
Sumber acuan umum dan khusus berupa buku-buku, ensiklopedia dan semacamnya.
Peneliti akan memperoleh teori-teori dan konsep-konsep dasar dilakukan penjabaran atau analisis, melalui penalaran deduktif.
B.  Penelitian yang Relevan.
            Adalah sumber acuan khusus yang berupa penelitian farmasi yang terdapat dalam jurnal, bulletin, skripsi, dan semacamnya.
            Dalam sumber acuan khusus, peneliti akan memperoleh hasil-hasil penelitian yang terdahulu.  Dari penemuan-penemuan atau hasil-hasil penelitian dilakukan pemaduan atau sintesis, melalui penalaran induktif.
C.  Kerangka Teori
            Kerangka berfikir berisi gambaran pola hubungan antar variable atau pola hubungan antar variable atau kerangka konsep yang akan digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti, disusun berdasar kajian teoritik yang telah dilakukan.
D.  Hipotesis  (bila ada).
            Penyusunan hipotesis bisa dari deduksi dan induksi, diharapkan dapat diperoleh jawaban yang idanggap paling besar kemungkinan kebenarannya.  Jawban inilah yang merupakan hipotesis penelitian.

BAB III.
METODE PENELITIAN
A.  Desain Penelitian
            Ada 4 jenis desain, dasar peneltian yaitu desain satu factor, desain satu cuplikan, desain ulangan, dan desain factorial.  Penelitian dapat kombinasi dari desain-desain tersebut.
            Ada hubungan yang erat antara jenis desain penelitian dengan teknik analisi data penelitian.
B.  Definisi operasional variable penelitian.
            Desain penelitian berisi hubungan antar berbagai variable atau ubahan yang akan diteliti.  Oleh karena itu diperlukan definisi operasional dari variable tersebut. 
Defininisi operasional penting untuk menentukan instrument untuk pengumpulan data.  Perlu dirinci variable yang akan diteliti.



Populasi dan Sampel Penelitian,
1.  Populasi Penelitian
            adalah keseluruhan subyek penelitian.  Populasi merupakan subyek tempat obyek penelitian berada.  Penelitian biasanya dilakukan terhadap sample atau cuplikan, tetapi hasilnya degeneralisasikan terhadap populasi.
2.  Sampel penelitian.
            Sampel atau cuplikan penelitian adalah bagian dari populasi yang masih memiliki sifat-sifat populasi.
Sampel harus dapat mewakili populasi karena hasil-hasil penelitian terhadap sample akan digeneralisasikan terhadap populasi.
3. Teknik pengambilan sample:  random, strata, area, sistematik, pupossive, quota, cluster, double, atau kombinasi dari  teknik-teknik tersebut. 
4.  Teknik Pengumpulan Data
a).  Instrumen penelitian
            Alat ukur yang digunakan untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
b).,  Teknik pengumpulan data
            Cara-cara memperoleh data yang diharapkan.
5.  Teknik Analisis Data
            Teknik analisis data penelitian berhubungan erat dengan desain penelitian, missal anava-AB adalah teknik analisis data penelitian untuk desain factorial dua factorial.   Analisis data tergantung dari datanya, data dapat dianalisis secara kualitatif, kuantitatif non statistic, statiastika parametriik, atau statistika non parametric.
C.  Alat dan Bahan yang digunakan
            Spesifikasi alat dan bahan harus dicantumkan.
Penyusunan seperti dalam petunjuk penulisan skripsi.

I. JENIS PENELITIAN

A.  Penelitian Menurut bidangnya.
            1.  Pendidikan
            2.  Sejarah
            3.  Kimia
            4.  Biologi
            5.  Farmasi
            6.  Ekonomi
            7.  Kedokteran, dll.
B.  Menurut tempatnya.
            1.  Laboratorium
            2.  Perpustakaan.
            3.  Lapangan.
C.  Menurut Tujuan
            1.  Eksploratif: untuk menemukan sesuatu yang baru.
            2.  Pengembangan
                  3.  Verifikatif:  untuk menguji / mengulangi hasil peneliti9an yang sudah ada.
D.  Menurut Tarafnya.
            1.  Deskriptif.
            2.  Inferensial
E.  Menurut Approachnya
            1.  Longitodinal (menurut waktu)
                        Pengamatan minggu ke 1, 2, 3, dst.
            2.  Cross-sectional (diambil dalam waktu berlainan).

Sabtu, 22 Oktober 2011

Uji Sitotoksik

Dasar dari uji sitotoksik adalah kemampuan sel untuk bertahan hidup karena adanya  senyawa toksik. Kemampuan sel untuk bertahan hidup dapat diartikan sebagai tidak hilangya metabolik atau proliferasi dan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel, naiknya jumlah protein, atau DNA yang disintesis. Metode yang digunakan untuk mengukur kemampuan bertahan hidup dan proliferasi adalah plating efficiency dengan parameter pengujian perbedaan konsentrasi sampel, perbedaan waktu paparan dan kerapatan sel (Fresney,1996).
Uji sitotoksik secara in vitro menggunakan kultur sel digunakan untuk mendeteksi adanya aktivitas antikanker dari suatu senyawa. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh system uji sitotoksik, baik untuk evaluasi keamanan senyawa atau untuk mendeteksi aktivitas antikanker suatu senyawa. Sistem uji tersebut harus menghasilkan kurva dosis respon yang reproduksibel dan menggambarkan efek senyawa yang sama bila diberikan secara in vivo.  Uji sitotoksik untuk uji aktivitas antineoplastik menunjukkan adanya  perbedaan respon yang diberikan oleh sel kanker lebih besar dari sel normal (Fresney, 1996)
Uji sitotoksik dapat dilakukan dengan dua metode :

a.    Metode MTT
Metode MTT menggunakan garam kuning tetrazolium, seperti MTT [3-(4,5-Dimethylthiazol-2-yl)-2,5-Diphenyltetrazolium Bromide]. MTT akan direduksi oleh mitokondria pada sel yang hidup menjadi senyawa formazan berwarna ungu (Gambar 4) dan tidak larut dalam air oleh sistem suksinate tetrazolium reduktase. Absorbansi larutan berwarna ini kemudian dapat diukur menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang antara 500 dan 600 nm (Meiyanto, 1999)
                               MTT                                                             Formazan
 








                     (berwarna kuning)                                           (berwarna ungu)
Gambar  4.  Reaksi reduksi MTT menjadi formazan (Anonim, 2011)

b.    Metode Perhitungan Langsung
Uji sitotoksik dilakukan secara manual dengan menghitung jumlah sel hidup dibandingkan dengan kontrol. Perhitungan sel hidup secara manual dilakukan dengan pengecatan menggunakan biru tripan. Sel yang mati akan menyerap warna biru tripan sedangkan sel yang hidup tidak, hal ini disebabkan sel yang mati mengalami kerusakan pada membran selnya, sehingga protein dalam sel keluar dan berikatan dengan biru tripan. Perhitungan jumlah sel yang hidup dilakukan langsung pada hemocytometer. Perhitungan sel hidup dengan pewarnaan biru tripan ini juga sulit dilakukan karena sukar membedakan sel hidup dengan sel mati. Hal ini kemungkinan disebabkan pemaparan sel dengan biru tripan yang terlalu lama sehingga sel hidup juga akan mulai menyerap warna biru tripan.

Kamis, 22 September 2011

CYTOTOXIC ACTIVITY TEST OF p-DIMETHYLAMINOCHALCONE COMPOUNDS AND CHALCONE AGAINTS MCF-7 AND VERO CELL

CYTOTOXIC ACTIVITY TEST OF p-DIMETHYLAMINOCHALCONE COMPOUNDS AND CHALCONE AGAINTS MCF-7 AND VERO CELL


ABSTRACT

One common type of cancer that affects women is breast cancer. Various therapies have not been able to cure breast cancer. Chalcone compounds have promising anticancer activity. ρ-dimethylaminochalcone compound is a derivative of the chalcone. This research was conducted to determine cytotoxic activity of ρ-dimethylaminochalcone compared with chalcone against the MCF-7 and Vero cells.
MTT Test was used as the method in the cytotoxic activity test in the MCF-7 and Vero cells. The series of concentration used in the MCF-7 cell for the ρ-dimethylaminochalcone and chalcone were 100; 50; 25; 12,5; 6,25; 3,12; 1,56 μg/mL. In the Vero cell, the series of concentration used for ρ-dimethylaminochalcone and chalcone were 32; 16; 8; 4; 2; 1; 0,5 μg/mL. The Absorbance of the cell was measured at 550 nm wavelength using the ELISA reader. IC50 was used as a cytotoxicity parameter that was obtained with probit analysis.
The value of IC50 to the MCF-7 cell from the ρ-dimethylaminochalcone was 4,49 µg/mL and 1,36 µg/mL for chalcone. The value of IC50 to the MCF-7 cell from ρ-dimethylaminochalcone was 47,59 µg/mL dan 13,98 µg/mL for chalcone. It shown that the ρ-dimethylaminochalcone had a lower cytotoxic activity than chalcone to MCF-7 and Vero cell.

Keywords : ρ-dimethylaminochalcone, chalcone, MCF-7 cells, Vero cells, cytotoxic

Minggu, 11 September 2011

Siklus Sel

Siklus Sel
Pertumbuhan dan perkembangan setiap makhluk hidup tergantung dari pertumbuhan sel dan perbanyakan sel. Hal ini berlaku baik untuk makhluk hidup uniseluler maupun multiseluler. Pembelahan sel pada makhluk hidup uniseluler berarti pula reproduksi karena akan terjadi dua makhluk hidup yang berasal dari satu sel induk. Sedangkan pada makhluk hidup multiseluler pembelahan sel sangat penting untuk pertumbuhan makhluk hidup dari muda sampai dewasa. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan makhluk hidup multiseluler termasuk manusia tergantung dari jumlah sel yang menyusun jaringan-jaringan dalam tubuhnya karena semakin besar ukuran jaringan tubuh semakin banyak jumlah sel  yang menyusun.
Pertumbuhan sel merupakan sebuah siklus yang berulang, yaitu dari sel muda bertumbuh menjadi dewasa, kemudian membelah menjadi dua sel muda lagi untuk bertumbuh menjadi dewasa, demikian seterusnya sehingga terjadi siklus yang dinamakan siklus sel (Juwono dan Juniarto, 2000)
Dalam masa pertumbuhan sel akan mengalami perubahan-perubahan tertentu dan umumnya akan melewati tahap-tahap pertumbuhan sel. Tampak pada Gambar 1, siklus sel terdiri dari beberapa fase yang meliputi:
1.  Fase Mitosis (M)
     Fase dimana terjadi pembelahan sel aktif. Setelah melalui fase ini ada 2 alternatif:
     a.  Menuju fase G1 dan melalui proses proliferasi
     b.  Masuk fase istirahat (G0). Pada fase istirahat (G0) kemampuan sel untuk berproliferasi hilang dan sel 
          meninggalkan siklus secara tak terpulihkan
2.  Fase post mitotic (G1)
     Fase G1 merupakan fase yang paling menentukan terhadap keseluruhan siklus karena merupakan poin
     vital dari  regulasi signal pertumbuhan. fase ini berfungsi untuk memastikan cukupnya signal untuk
     kelangsungan sel dan akurasi transmisi informasi genetik. Pada fase ini sel mempersiapkan suatu interval dalam proses pembelahan sel, dimulai dengan sintesis enzim-enzim yang dibutuhkan pada sistesis DNA.     Proses sintesis DNA akan terjadi jika sel telah melewati Retriction Poin (R) pada akhir fase ini (King,     2000). Pada fase ini tidak terjadi sintesis DNA, tetapi terjadi sintesis RNA dan protein. Pada akhir fase G1 terjadi sintesis RNA yang optimum (Siswandono dan Soekarjo, 2000)
3.  Fase Sintetik (S). pada fase ini terjadi replikasi DNA sel.
4.  Fase post sintetik (G2) sintesis DNA berhenti, sedangkan sintesis RNA dan protein berjalan terus.
     Selama fase G2, replikasi DNA dimonitor untuk memastikan bahwa DNA telah dilipatgandakan. Fase ini
     merupakan fase pertumbuhan sel dan finalisasi komponen sel sebelum diproses ke dalam fase mitosis.
     Karena proses motosis dapat berhenti jika masih terdapat DNA yang belum diperbaiki pada saat fase
     sintesis DNA (S). Proses tersebut dinamakan G2 check point yang dimonitori oleh gen p53 (Fuller dan
     Shields, 1992)
Gambar 1. Siklus Sel ( Secko, 2003)
                                                               M    =  Mitosis
                                                                S    =  Sintesis
                                                              G1   =  Gap 1
                                                              G2   =  Gap 2
Dari uraian di atas jelas bahwa sintesis DNA hanya terjadi dalam waktu singkat yaitu dalam tahap S sedangkan sintesis RNA berlangsung terus sampai pada saat sel mulai mengadakan pembelahan. Dalam siklus sel, setelah tahap G2 dalam pertumbuhan akan diikuti dengan tahap pembelahan sel (Fase mitosis / M) yang akan menghasilkan sel-sel baru yang masih muda dan kemudian akan mengalami pertumbuhan melalui tahap-tahap G1, S dan G2.

Daftar Pustaka : 
Juwono dan Juniarto, A.Z., 2000, Biologi Sel, Jakarta : EGC
King, R.J.B., 2000, Cancer Biology, 2nd ed., Pearson Education Limited, London
Secko, D., 2003, The Cell Cycle : A Universal Cellular Division Program,  
     SCQ,http://www.scq.ubc.ca/the-cell-cycle-a-universal-cellular-division-program/
Siswandono dan Bambang Soekardjo, 2000b, Kimia Medisinal, Jilid 2, Airlangga University Press,
      Surabaya, 165-167.


Jumat, 19 Agustus 2011

Uji Sitotoksik

Uji Sitotoksik
Dasar dari uji sitotoksik adalah kemampuan sel untuk bertahan hidup karena adanya  senyawa toksik. Kemampuan sel untuk bertahan hidup dapat diartikan sebagai tidak hilangya metabolik atau proliferasi dan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel, naiknya jumlah protein, atau DNA yang disintesis. Metode yang digunakan untuk mengukur kemampuan bertahan hidup dan proliferasi adalah plating efficiency dengan parameter pengujian perbedaan konsentrasi sampel, perbedaan waktu paparan dan kerapatan sel (Fresney,1996).
Uji sitotoksik secara in vitro menggunakan kultur sel digunakan untuk mendeteksi adanya aktivitas antikanker dari suatu senyawa. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh system uji sitotoksik, baik untuk evaluasi keamanan senyawa atau untuk mendeteksi aktivitas antikanker suatu senyawa. Sistem uji tersebut harus menghasilkan kurva dosis respon yang reproduksibel dan menggambarkan efek senyawa yang sama bila diberikan secara in vivo.  Uji sitotoksik untuk uji aktivitas antineoplastik menunjukkan adanya  perbedaan respon yang diberikan oleh sel kanker lebih besar dari sel normal (Fresney, 1996)
Uji sitotoksik dapat dilakukan dengan dua metode :
a.    Metode MTT
Metode MTT menggunakan garam kuning tetrazolium, seperti MTT [3-(4,5-Dimethylthiazol-2-yl)-2,5-Diphenyltetrazolium Bromide]. MTT akan direduksi oleh mitokondria pada sel yang hidup menjadi senyawa formazan berwarna ungu (gambar 1) dan tidak larut dalam air oleh sistem suksinate tetrazolium reduktase. Absorbansi larutan berwarna ini kemudian dapat diukur menggunakan ELISA reader pada panjang gelombang antara 500 dan 600 nm (Meiyanto, 1999)
Gambar 1. reaksi reduksi MTT
b.   Metode Perhitungan Langsung
Uji sitotoksik dilakukan secara manual dengan menghitung jumlah sel hidup dibandingkan dengan kontrol. Perhitungan sel hidup secara manual dilakukan dengan pengecatan menggunakan biru tripan. Sel yang mati akan menyerap warna biru tripan sedangkan sel yang hidup tidak, hal ini disebabkan sel yang mati mengalami kerusakan pada membran selnya, sehingga protein dalam sel keluar dan berikatan dengan biru tripan. Perhitungan jumlah sel yang hidup dilakukan langsung pada hemocytometer. Perhitungan sel mati dengan pewarnaan biru tripan ini juga sulit dilakukan karena sukar membedakan sel hidup dengan sel mati. Hal ini kemungkinan disebabkan pemaparan sel dengan biru tripan yang terlalu lama sehingga sel hidup juga akan mulai menyerap warna biru tripan.

Jumat, 12 Agustus 2011

Senyawa kalkon


Senyawa kalkon merupakan salah satu senyawa flavonoid, yaitu senyawa yang kerangka karbonnya terdiri atas gugus C6-C3-C6. Strukturnya dapat dibedakan dari senyawa flavonoid lain dari cincin C3 yang terbuka (Gambar 1). Kalkon adalah aglikon flavonoid yang pertama kali terbentuk dalam biosintesis semua varian flavonoid melalui jalur prazat dari  alur ‘siklamat’ dan alur ‘asetat malonat’ (Markham, 1998). Kalkon umumnya terdapat dalam tanaman yang termasuk keluarga Heliantheaetribe, Coreopsidinae, dan Compositae (Sastrohamidjojo, 1996).

Gambar 1. Senyawa Kalkon

Pada struktur senyawa kalkon, subtituen pada 2 cincin aromatis yang mengapit enon akan memberikan pengaruh terhadap elektrofilisitas struktur enon melalui peningkatan ataupun penurunan kerapatan elektron pada cincin aromatis. Adanya gugus pemberi elektron akan menurunkan elektrofilisitas dari cincin enon. Demikian pula sebaliknya, adanya gugus penarik elektron pada cincin c aromatis akan meningkatkan aktivitasnya sebagai agen pengalkil nukleofil biologis dalam biosintesis IL-1 sebagai antiinflamasi (Batt dkk, 1993).

Senyawa kalkon memiliki aktivitas inhibisi angiogenesis melalui adisi nukleofilik pada gugus enon (Robinson dkk, 2003). Menurut Batt dkk (1993), jembatan enon pada senyawa 2’-kalkon tersubtitusi memegang peranan penting dalam mekanisme aksi inhibitor biosintesis IL-1 karena dapat berperan sebagai agen elektrofilik pengalkilasi. Para agen pengalkilasi memberikan efek sitotoksik melalui transfer alkyl group untuk berbagai konstituen seluler. Alkilasi DNA dalam inti atom mungkin mewakili interaksi utama yang menyebabkan kematian sel (Katzung, 2006).
Senyawa pengalkilasi dapat membentuk senyawa kationik antara yang tidak stabil, diikuti pemecahan cincin membentuk ion karbonium reaktif. Ion ini bereaksi, melalui reaksi alkilasi, membentuk ikatan kovalen dengan gugus-gugus donor elektron, seperti gugus-gugus karboksilat, amin, fosfat, dan tiol, yang terdapat pada struktur asam amino, asam nukleat dan protein, yang sangat dibutuhkan untuk proses biosintesis sel. Reaksi ini membentuk hubungan melintang (cross-lingking) antara dua rangkaian DNA dan mencegah mitosis. Akibatnya proses pembentukan sel terganggu dan terjadi hambatan pertumbuhan sel kanker (Siswandono dan Soekardjo, 2000)
 

Minggu, 07 Agustus 2011

Sel T47D

Sel T47D merupakan continous cell line yang diisolasi dari jaringan tumor duktal payudara seorang wanita berusia 54 tahun. Continous cell line sering dipakai dalam penelitian kanker secara in vitro karena mudah penangannya, memiliki kemampuan replikasi yang tidak terbatas, homogenitas yang tinggi serta mudah diganti dengan frozen stock jika terjadi kontaminasi (Burdall et al., 2003). Sel T47D memiliki morfologi seperti sel epitel. Sel ini dikulturkan dalam media DMEM + 10% FBS + 2 mM L-Glutamin, diinkubasi dalam CO2 inkubator 5% dan suhu 370C (Abcam, 2007)

Uji Aktivitas Sitotoksik Senyawa p-dimetilaminokalkon dan Kalkon terhadap Sel MCF-7 dan Sel Vero

INTISARI

Salah satu jenis kanker yang umum diderita kaum wanita adalah kanker payudara. Berbagai terapi yang ada belum dapat menyembuhkan penyakit kanker payudara. Senyawa kalkon mempunyai aktivitas antikanker yang menjanjikan. Senyawa ρ-dimetilaminokalkon merupakan turunan dari senyawa kalkon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dari senyawa ρ-dimetilaminokalkon yang dibandingkan dengan senyawa kalkon pada sel MCF-7 dan sel Vero.
Metode yang digunakan pada uji aktivitas sitotoksik terhadap sel MCF-7 dan sel Vero adalah MTT Test. Seri kadar yang digunakan pada sel MCF-7 untuk senyawa p-dimetilaminokalkon dan kalkon adalah 100; 50; 25; 12,5; 6,25; 3,12; 1,56 μg/mL. Pada sel Vero, seri kadar yang digunakan untuk senyawa p-dimetilaminokalkon dan kalkon adalah 32; 16; 8; 4; 2; 1; 0,5 μg/mL. Absorbansi sel diukur pada panjang gelombang 550 nm dengan menggunakan ELISA reader. Parameter sitotoksisitas yang digunakan yaitu IC50 yang diperoleh dengan analisis probit.
Harga IC50 terhadap sel MCF-7 dari senyawa p-dimetilaminokalkon adalah 4,49 µg/mL dan 1,36 µg/mL untuk senyawa kalkon. Harga IC50 terhadap sel vero dari senyawa p-dimetilaminokalkon sebesar 47,59 µg/mL dan 13,98 µg/mL untuk senyawa kalkon. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa p-dimetilaminokalkon memiliki aktivitas sitotoksik yang lebih rendah daripada kalkon terhadap sel MCF-7 dan sel Vero.


Kata kunci : p-dimetilaminokalkon, kalkon, sel MCF-7, sel Vero, sitotoksik