Jumat, 20 Januari 2012

Demam Tifoid

Gambar 1. Anak menderia demam tifoid (sumber:nursingbegin.com)


A. DEFINISI
Jika kita mendengar demam typhoid mungkin masih aneh terdengar ditelinga kita, namun berbeda jika kita mendengar penyakit tipes/tifus/tifes. Penyakit tipes/tifus/tifes yang sering sekali kita dengar sebenarnya merupakan penyakit Demam Tifoid. Demam tifoid merupakan penyakit yang endemik dan masih merupakan problem kesehatan masyarakat di Indonesia. Penderita penyakit demam typhoid yang dirawat Rumah Sakit, yang biasanya berasal dari golongan usia dewasa muda, sering menderita pendarahan dan kadang-kadang menyebabkan perforasi usus yang tidak jarang berakhir dengan kematian.
Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi yang biasanya diikuti dengan demam, sakit kepala dan ruam, yang paling sering disebabkan oleh Salmonella typhi. Mekipun jarang ditemui, demam tifoid dapat disebabkan oleh Salmonella Paratyphi. Demam tifoid yang disebabkan oleh salmonella paratyphi menyebabkan penyakit demam tifoid yang lebih ringan. Orang dapat terkena demam tifoid karena telah menelan makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi oleh bakeri salmonella. Tertelannya bakteri salmonellat tersebut menyebabkan terjadinya infeksi pada usus halus. Bakteri ini dibawa oleh aliran darah menuju hati dan limfa sehingga berkembangbiak disana yang menyebabkan rasa sakit ketika diraba.
B. ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI
Demam tifoid merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini termasuk penyakit menular menurut undang-undang nomor 6 tahun 1962 tentang wabah. Survailens Departemen Kesehatan RI frekuensi kejadian demam tifoid pada tahun 1990 sebesar 9,2 dan pada tahun 1994 terjadi peningkatan frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survey berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8% yaitu dari 19.596 menjadi 26.606 kasus. Insidens demam tifoid bervariasi di tiap daerah dan terkait dengan sanitasi lingkungan; di rural (Jawa Barat)  157 kasus per 100.000 penduduk, sedangkan di daerah urban ditemukan 760-810 per 100.000 penduduk. Kemudian Case Fatality Rate (CFR) demam tifoid pada tahun 1996 sebesar 1,08% dari seluruhan kematian di Indonesia. Tetapi dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga Departemen Kesehatan RI (SKRT DEPKES RI) tahun 1995 demam tifoid tidak termasuk dalam 10 penyakit dengan mortalitas tetinggi.
Etiologi demam typhoid adalah salmonella typhi ada dua sumber penularan salmonella typhy yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekskresikan salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

C. GEJALA KLINIS
Masa inkubasi penyakit ini berlangsung selama 1-2 minggu, dan durasi penyekit ini di derita oleh pasien berkisar 4-6 minggu. Gejala awal berupa demam, sakit pada umumnya dan nyeri perut. Pasien yang menderita demam tifoid mengalami demam berkelanjutan setinggi 39-40 derajat celcius dan diare yang parah sebagai tanda penyakit semakin memburuk. Beberapa pasien yang menderita demama difoid mengalami ruam yang disebut "rose spot", berupa bintik-bintik kecil berwarna merah di dada dan perut. Selama durasi penyakit demam tifoid 4-6 minggu pasien akan mengalami :
1. Kurang atau bahkan hilangnya nafsu makan. Pada pasien demam tifoid, lidahnya kotor,
    berwarna putih pada bagian tengah dan berwarna merah pada bagian tepi. Lidahnya terasa
    pahit dan cenderung ingin makan makanan yang asam-asam dan pedas
2. Nyeri perut
3. Sakit kepala
4. Rasa sakit seperti sakit pada umumnya
5. Lesu
6. Pendarahan atau perforasi di usus
7. Demam dengan suhu tinggi 39-40 derjat celcius lebih dari seminggu. Pada siang hari pasien
    terlihat segar bugar namun akan terjadi demam tinggi menjelang malam hari.
8. Diare atau sembelit. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan
    penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi
    konstipasi

D. DIAGNOSIS
Demam tifoid kurang memiliki tanda-tanda klinis yang spesifik, sehingga sulit untuk di diagnosis dengan cepat. Sebagai pertimbangan bahwa pasien menderita penyakit demam tifoid adalah demam selama 7 hari tanpa ada penyebab yang jelas. Namum demam tersebut juga dapat menjadi gejala sebagai penyakit malaria. Pada demam tifoid, demam selama 7 hari pada pasien akan memburuk di sore hari menjelang malam hari dan akan terus berlanjut selama 2 minggu jika tidak ditangani dengan benar. Gejala lain yang mungkin muncul antar lain ganguan gastrointestinal berupa mual, muntah, diare, kembung, hepatomegali, dan bagian tepi lidah kotor berwarna putih sedangkan bagian tengah berwarna merah.
Dengan kurangnya gejala klinis yang spesifik dari demam tifoid maka diagnosis laboratorium akan menjadi sangat penting untuk menentukan ada tidaknya S. typhi atau S. paratyphi yang menjadi penyebab demam tifoid. Keberadaan S. typhi dan S. parathypi dapat dideteksi dari antigen atau antibodi spesifik yang dihasilkan bakteri tersebut dalam tubuh. Sampel yang dapat digunakan untuk didiagnosa antarlain darah atau urine pasien. Cara diagnosis laboratorium yang dapat biasa digunakan antara lain : cultur, serologi diagnosis, dan Vi-antibodi test.

PROGNOSIS
Gejala dari demam tifoid biasanya akan membaik dalam 2-4 minggu dengan pengobatan yang baik. Pengobatan sedini mungkin akan semakin baik untuk menangani demam tifoid, namun demam tifoid semakin memburuk jika terjadi komplikasi lebih lanjut. Gejala dapat kembali muncul jika pengobatan belum benar-benar mengobati infeksi yang terjadi

E.  PATOFISIOLOGI
Kuman S. typhi masuk ke tubuh manusia melalui mulut dengan makanan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertropi. Ditempat ini komplikasi pendarah dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman S. typhi kemunidan menembus ke lamina propina, masuk aliran limfa dan menjapai kelenjar limfa messenterial yang juga mengalam hipertropi. Seletah melewati kelenjar-kelenjar limfa ini S.typhi masuk ke aliran darah melalui duktus thoracicus. Kuman-kuman S. typhi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. S. typi bersarang di plaque peyeri, limfa, hati dan bagian-bagian lain sistem retikuloindotal.
Semula disangka demam dan gejala-gejala tosemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotosemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian-eksperimental disimpulkan bahwa endotosemia bukan merpakan penyebab utama demam dan gejala-gejala tosemia pada demam tiifoid. Edotokdin S. typhi berperan pada patogenesis demam tidoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan setempat S. typhi berkembang biak. Demam tifoid disebabkan karena S. typhi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang

PATOGENESIS

F. TERAPI
Pengobatan penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan suportif, medikamentosa.
1. Pengobatan Medikamentosa
    Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol, ampisilin/amoksisilin atau kotrimoksasol. Obat
    pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan ketiga adalah meropenem,
    azitromisin dan fluorokuinolon.
    a. Kloramfenikol diberikan dengan dosis 500mm/kg BB/hari, terbagi dalam 3-4 kali pemberian,
        oral atau intravena, selama 14 hari. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian
        kloramfenikol, diberi
   b. Ampisilin dengan dosis 200 mg/kg BB/hari, terbagi dalam 3-4 kali.
       Pemberian, intravena saat belum dapat minum obat selama 21 hari, atau
   c. Amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali
       Pemberian, oral/intravena selama 21 hari atau
   d. Kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8mg/kgBB/hari terbagi dalam 2 kali pemberian oral,
       selama 14 hari
Pada kasus berat dapat diberikan seftriakson dengan dosis 50 mg/kbBB/hari dan diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kgBB/hari, sekali sehari, intraveno selama 5-7 hari. Pada kasus yang diduga mengalami MDR (Multi Drug Resistance), maka pilihan antibiotik adalah meropenem, azitromisin dan fluoroquinolon.
2. Pengobatan Non-Medikamentosa
    a. Istirahat dan perawatan : tirah baring dan perawatan profesional bertujuan untuk pencegahan
        komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makan, minum,
        mandi, buang air kecil dan buang air besar akan membantu dan mempercepat masa
        penyembuhan. Dan sangat perlu sekali dijaga kebersihannya
   b. Diet dan terapi penunjang : diet merupakan hal yang cukup penting dalam proses
       penyembuhan penyakit demam tifoid, karena makanan yang kurang dapat mempengaruhi
       kondisi pasien demam tifoid, di masa lampau penderita demam tifoid hanya diberi bubur
       saring, kemudian ditingkatkan menjadi bubur kasar dan akhirnya diberikan nasi.
       Pemberian bubur saring bertujuan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran
       cerna atau perforasi usus

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar